Angka Stunting Kalteng Turun

  • Bagikan
ilustrasi/net

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng H Suyuti Syamsul

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM– Pandemi Covid-19 yang dihadapi dunia termasuk Indonesia khususnya Kalimantan Tengah, menyedot anggaran yang tidak sedikit. Meski anggaran dialihkan, penanganan masalah kesehatan di Kalteng mampu berjalan optimal, salah satunya masalah stunting atau kekerdilan.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng Suyuti Syamsul menjelaskan, walaupun Kalteng turut ambil bagian dalam penanganan pandemi Covid-19, tapi penanganan stunting di Kalteng mampu tertangani dengan baik, bahkan mengalami penurunan. Data justru menunjukkan penurunan karena intervensi spesifik melalui Dinas Kesehatan dan melalui OPD lain.

Suyuti menjelaskan, data stunting tahun 2020 disepakati diambil dari rekapan data Agustus 2020 pada aplikasi Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM). Pada bulan tersebut, merupakan bulan kapsul vitamin A dan juga merupakan bulan pemantauan pertumbuhan serta pengukuran pada balita. Pada bulan tersebut balita diharapkan banyak yang datang ke Posyandu.

“Data prevalensi stunting yang dimiliki Kalteng menunjukkan penurunan angka yang cukup signifikan. Kurun waktu sejak beberapa tahun terakhir angka stunting di Kalteng berada pada 16,7 persen. Namun demikian, persentase tersebut mengacu pada input data e-PPGBM tahun 2020  Kalteng hanya mencapai 56 persen dan Kabupaten Kapuas yang capaian entri sebesar 95 persen,” kata Suyuti di Palangka Raya, Rabu (7/4/2021).

Suyuti melanjutkan, hasil input data yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten dan kota, hanya ada 1 kabupaten yang berada pada angka 30,8 persen yakni Kabupaten Murung Raya. Kemudian ada Kabupaten Kotawaringin Timur sebesar 26,4 persen. Diikuti Palangka Raya dengan jumlah 22,3 persen. Sementara di Kabupaten Gunung Mas sebesar 21,8 persen dan di Kabupaten Pulang Pisau pravelensi stunting sebesar 21,2 persen.

Pravelensi stunting, kata Suyuti, berdasarkan data tersebut ada di Kabupaten Barito Utara sebesar 8,8 persen. Sementara beberapa daerah lain berada pada angka 10 sampai 19 persen.

Dari sisi kesehatan namanya intervensi spesifik. Kalau sakit diobati, kalau kurang gizi diberikan makanan tambahan. Kalau sensitif, misalnya air minum melalui penyediaan air bersih oleh instansi terkait. Kalau kurang pangan pada tingkat rumah tangga, ya melalui bantuan pangan oleh dinas terkait. ded

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *