Bantu Ekonomi Keluarga, DP3APPKB latih IRT Keterampilan Tata Boga

  • Bagikan
KEGIATAN - Kegiatan Penguatan Jejaring Antar Lembaga Penyedia Layanan Peningkatan Kualitas Keluarga Kewenangan Provinsi di Neo Hotel Palma Palangka Raya, Rabu (24/3/2021). FOTO: TABENGAN/DANIEL

 PALANGKA RAYA – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Provinsi Kalimantan Tengah gelar kegiatan penguatan jejaring antar lembaga penyedia layanan peningkatan kualitas keluarga kewenangan provinsi di Neo Hotel Palma Palangka Raya, Rabu (24/3).

Kegiatan ini dimaksudkan untuk membantu ekonomi keluarga yang terdampak pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung setahun lebih. Salah satunya dengan memberikan pelatihan membuat kue bagi para ibu rumah tangga.

Kepala DP3APPKB Kalteng, dr ADM Tangkudung Mkes melalui Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Kualitas Keluarga, Dra Marwati Sukwatini mengatakan, kegiatan sebagai pemberdayaan bagi kaum perempuan yang terdampak pandemi Covid, sehingga bisa mandiri melakukan pengembangan usaha dan membangkitkan ekonomi bagi keluarganya.

“Pandemi yang berkepanjangan, bukan saja  berdampak pada pelaku usaha tetapi juga pada ekonomi keluarga. Untuk itu kami menggagas kegiatan tersebut untuk mendukung perekonomian keluarga,” bebernya.

Disamping itu disebutkan Tangkudung, pemerintah terus berupaya dalam mengurangi kesenjangan ekonomi bagi perempuan agar dapat mandiri tidak hanya bergantung kepada kaum pria. Salah satu upaya ini dengan memberikan pengetahuan dan pelatihan keterampilan kerja.

Kemudian dalam menghadapi dampak ekonomi akibat penyebaran virus Covid-19, selain membutuhkan dukungan pemerintah, pelaku UMKM khususnya pelaku usaha kecil perlu melakukan terobosan dan strategi agar tetap mampu bertahan di tengah lesunya ekonomi riil.

Bahkan sambungnya, sebagian pengamat memperkirakan sektor UMKM akan mengalami kesulitan menahan dampak yang timbul akibat wabah Covid-19. UMKM dinilai sebagai sektor yang paling rentan terhadap krisis ekonomi.  Pasalnya, jenis usaha ini sangat bergantung pada perputaran uang hasil penjualan barang dagangan.

“Persoalan yang dihadapi UMKM beragam, mulai dari turunnya omzet penjualan, kesulitan bahan baku, turunnya permintaan, hingga sulitnya pendistribusian. Angka tersebut diperkirakan meningkat jika persoalan-persoalan tersebut tidak segera ditangani,” jelas Tangkudung.

Terlebih kebijakan pemerintah membatasi pergerakan masyarakat dan imbauan agar masyarakat tetap berada di rumah bisa menyebabkan aktivitas ekonomi menjadi berkurang. Hal itu tampak dari sepinya pembeli di warung, pertokoan, hingga pusat perbelanjaan. Bahkan, sejumlah pusat perbelanjaan telah memutuskan tutup sementara. Ujungnya, pendapatan pelaku UMKM menjadi berkurang.

Ditempat yang sama, Instruktur Tata Boga Tri Rasniati S.Pd berharap para peserta pelatihan dapat menerepakan latihan yang telah diberikan untuk membuka usaha dan membangkitkan ekonomi keluarga.dsn

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *