Setahun Pandemi, Usaha Mebel Terus Bertahan

  • Bagikan
MEBEL- Mebel Kreabi dan Mebel Nadya di Jalan RTA Milono Km 2,5, Palangka Raya. TABENGAN/DANIEL

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM– Lebih setahun sudah pandemi Covid-19 melanda Indonesia, termasuk Kalimantan Tengah (Kalteng), khususnya Kota Palangka Raya. Dampak yang dirasakan menyentuh berbagai aspek, tidak luput pada sektor perekonomian, terutama usaha masyarakat kecil.

Dari sisi ekonomi, terutama para pelaku usaha mebel mengaku ikut merasakan dampak penurunan omzet. Terlebih mereka tidak dapat lagi memasok produksi mebel ke toko-toko pengecer.

“Sebelum Covid, kami jual partai kirim ke toko-toko di pasar. Tapi selama Covid, kami yang buat, juga yang ngecer,” beber Hidayah, pelaku usaha mebel dari bengkel Mebel Kreabi, Jalan RTA Milono Km 2,5 Palangka Raya, saat dibincangi Tabengan, Selasa (23/3/2021).

Diakui Hidayah, omzetnya sangat turun. Namun, ia cukup bersyukur jika dapat kembali modal dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Selama 1 tahun ini usaha mebel agak turun. Saya jual mulai harga Rp100.000, tapi ada yang Rp3.000.000. Selama Corona jual sendiri, jadi harga jatuh tergantung tawar-menawar. Kalau ada pembeli, ibu-ibu cerewet maunya murah. Sebagian bikin sendiri, ada juga beli dari Amuntai,” imbuhnya.

Kurang lebih seperti apa yang dirasa Hidayah juga dialami oleh Rini, pelaku usaha dari bengkel Mebel Nadya. Namun, Rini mengaku biasa saja dan pasrah. Selain itu, juga mensyukuri usahanya tetap berjalan.

“Biasa saja. Standarlah bisa balik modal dan bisa untuk kebutuhan sehari- hari,” ujar Rini.

Di Mebel Nadya harga mebel dibanderol mulai dari Rp100.000-Rp1.500.000. Rini juga mengaku kalau mebel-mebel yang dijualnya sebagian berasal dari Amuntai, Kalimantan Selatan.

Rini menambahkan, terkait persoalan adalah harga jual karena bahan baku naik. Sebaliknya mereka tidak bisa begitu saja menaikkan harga mebel. Sebab, bila mahal sedikit saja, para pelanggan akan mencari toko mebel yang lain.

“Kalau jelasnya berapa kenaikan bahan baku saya kurang tahu. Karena yang belanja dan membuat ini semua adik saya. Saya hanya menjualnya,” ujarnya.

Baik Hidayah maupun Rini, berharap ada perhatian instansi terkait agar usahanya tetap mampu berjalan dan keluarga mereka terus dapat bertahan hidup melewati masa-masa pandemi ini. dsn

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *