Direktur RSUD Doris Akui Sampah Meningkat

  • Whatsapp
Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Doris Sylvanus Palangka Raya drg Yayu Indriaty SpKGA
iklan atas

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Doris Sylvanus Palangka Raya drg Yayu Indriaty SpKGA mengakui, memang kewalahan mengenai sampah medis di rumah sakit. Pada saat Covid-19 ini, volume sampah medis naik 4 kali lipat. Tapi, beratnya hanya sekitar 250 kg karena sampahnya berupa baju hazmat. Jumlahnya banyak dan dimensinya besar, tapi beratnya ringan.

“Itu yang terjadi karena besarnya volume, maka tidak bisa menampung di dalam tempat sampah medis kami, akhirnya sampai keluar dan itu sampai sekarang. Jadi kalau dikatakan RS Doris tidak standar tempat penampungan sampah, itu betul, karena pada masa pandemi ini jumlah sampah medis bertambah banyak dari biasanya,” kata Yuyu ketika ditemui di ruang kerjanya, Jumat (19/3/2021).

Menurut Yayu, mengenai permasalahan penanganan limbah di RS Doris ini ada 2. Pertama, limbah medis (limbah infeksius), kedua, limbah domestik. Untuk penanganan limbah di RS di bawah instalasi sanitasi, kemudian di dalam penanganannya, setiap hari rata-rata jumlah limbah medis hampir 200-250 kg per harinya.

Kemudian limbah infeksius yang Covid-19, rata-rata 250 per harinya, limbah domestik hampir 500 kg per harinya. Jadi jumlah sampah medis maupun domestik, hampir 1,5 ton setiap hari.

Untuk penanganan limbah domestik, lanjut Yayu, sudah dikerjasamakan dengan Pemerintah Kota Palangka Raya berdasarkan MoU dengan Dinas Lingkungan Hidup. Sampah dibuang sendiri oleh RS ke TPA setiap harinya di kilometer 14, Jalan Tjilik Riwut.

Sementara yang sampah infeksius baik itu Covid dan non Covid, RS Doris kerja sama dengan pihak penyedia jasa pengurusan limbah medis yang sudah memiliki izin dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), sudah berjalan sekitar 2 tahun ini. Mereka akan datang ke RS mengambil sampah per 2 minggu sekali, diangkut sesuai dengan standar. RS belum memiliki sarana untuk menanggulangi sampah sendiri.

Mesin yang dipergunakan untuk membakar sampah atau limbah medis (Incinerator) milik RS sudah lama rusak, juga tidak layak pakai, karena kalau dihidupkan asapnya tebal saat digunakan. Kemudian dari sisi standar juga kurang tinggi, bisa menimbulkan dampak yang tidak baik terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya, sehingga sampah medis yang ada tidak bisa ditanggulangi sendiri. Sementara ini hanya melakukan penyimpanan dengan jumlah kapasitas sekitar 1,5 ton.

Catatan Ombudsman RI Perwakilan Kalteng mengenai pengelolaan sampah yang buruk di RS Doris, lanjut Yayu, pada saat itu memang ada kunjungan ke RS September 2020 dan meminta keterangan. Setelah itu mereka melakukan pemantauan seluruh Indonesia, termasuk RS Doris tentang limbah Covid.

Dokter spesialis gigi ini menegaskan, belum melihat Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) itu. Kendati demikian, Yayu berterima kasih dan sama-sama memantau masalah limbah ini. RS tetap fokus masalah limbah dan tidak ingin sampai ada yang merasa terganggu dengan limbah tersebut, sehingga ditangani sesuai dengan standar, baik itu sampah padat, cair medis infeksius ataupun yang domestik.

“Nah terkait dengan kunjungan Ombudsman ini, pertama kami belum menerima laporan jadi mungkin lebih detail bisa ditanyakan ke pihak Ombudsman. Tetapi kami terbuka apa pun yang jadi masukan. Itu artinya memang sama-sama kita berkewajiban menjaga kebersihan RS,” pungkas Yayu.

Catatan Ombudsman mengenai limbah ini, pihak RS Doris  juga siap nanti akan tindak lanjuti. Tercecernya sampah pada saat kunjungan Ombudsman itu memang ada pengangkutan, entah tutup sampahnya terbuka atau seperti apa karena standarnya memang harusnya ditutup, tapi yang tercecer itu langsung diambil oleh pengangkut sampah medis pada saat itu juga.

Namun, letak tempat sampah ini berada di area khusus dan aman dan tidak boleh ada orang yang masuk. Tempatnya di belakang RS. Pada intinya RS siap kalau memang ada laporan dan apa yang harus ditindaklanjuti.

Khusus mengenai sampah medis, terutama selama masa pandemi, dalam sebulan 4 sampai 5 kali melakukan pertemuan dengan KLH dan Kemenkes konsentrasi menangani pengelolaan sampah medis. Dalam pertemuan tersebut terpantau hampir semua RS di Indonesia kewalahan terkait dengan penanganan sampah karena volume sampah bertambah.

“Selama pandemi ini terjadi hal yang luar biasa, jadi memang yang diukur itu pada saat penanganan Covid, jadi nyambung saja ini, sampahnya berlebih, volume dimensinya besar sehingga overload dari tempat penyimpanan. Jadi kami akui memang betul tempat penyimpanannya tidak cukup,” ujarnya.

Ke depan, Yayu berharap di Indonesia ini dibuat tempat pengelolaan sampah yang merata di setiap provinsi, khususnya sampah medis, sehingga tidak perlu jauh-jauh dengan pihak ketiga, bahkan sampai dibuang ke Kaltim. Ke depan, punya sendiri sehingga akan lebih ringan biayanya. yml

iklan atas

Pos terkait

iklan atas