Teras: Huma Betang untuk Moderasi Beragama

  • Whatsapp
KEGIATAN- Suasana kegiatan Moderasi Lembaga Keagamaan Buddha digelar oleh Bimas Buddha, Kanwil Kementerian Agama RI Kalteng, Sabtu (13/3/2021). ISTIMEWA
iklan atas

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM- Kerukunan umat beragama menjadi salah satu pilar penting dalam mendorong pembangunan bangsa. Peran umat beragama yang hadir sejak perjuangan kemerdekaan dan melahirkan negara Indonesia yang berdasar Pancasila, dinilai perlu terus ditingkatkan.

Untuk itu moderasi beragama dinilai penting untuk terus diupayakan. Salah satunya dengan menghidupi kearifan lokal Huma Betang yang adalah cerminan Pancasila dalam konteks masyarakat Kalimantan Tengah (Kalteng).

Hal ini disampaikan oleh Agustin Teras Narang, Senator DPD RI dapil Kalteng dalam kegiatan Moderasi Lembaga Keagamaan Buddha yang digelar oleh Bimas Budhha, Kanwil Kementerian Agama RI Kalteng, di Palangka Raya, Sabtu (13/3/2021).

“Moderasi beragama dapat berlangsung, bilamana kearifan lokal yang dapat menampung sekian banyak perbedaan, tumbuh terpelihara dengan dukungan dari pemangku kepentingan di daerah serta upaya masyarakat secara luas,” ujar Teras.

Teras mengaku kearifan lokal Kalteng yang tercermin dalam falsafah Huma Betang, telah terbukti relevan menjaga kondusivitas masyarakat. Untuk itu, setiap elemen masyarakat di Kalteng, termasuk umat Buddha perlu bersama-sama membangun harmoni nilai-nilai kebangsaan lewat kearifan lokal sehingga turut memperkuat moderasi beragama.

Moderasi beragama menurut Gubernur Kalteng 2005-2015 tersebut, adalah upaya untuk menjaga semangat teguh beriman menurut prinsip dan keyakinan setiap umat beragama, sembari menaruh hormat pada umat yang beragama berbeda.

Moderat, jelas Teras, tidak berarti bersikap kompromistis soal prinsip dasar atau ritual pokok agama demi menyenangkan kelompok lain. Menurutnya, sikap moderat adalah sikap siap sedia untuk berdialog dan membangun kehidupan bersama, ketimbang mempersoalkan perbedaan prinsip keagamaan yang berbeda.

Meski belakangan ada tantangan dalam menjaga kerukunan umat beragama, menurutnya berdasarkan Survei Kerukunan Umat Beragama dari Kementerian Agama pada tahun 2019, Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) di Indonesia tahun 2019 masih terbilang tinggi dengan skor 73,83, dengan rentang 0 sampai 100. Angka ini naik sebesar 2,93 dari Indeks KUB pada tahun sebelumnya yang berada di angka 70,90.

Salah satu dimensi yang memengaruhi kerukunan umat beragama ini adalah kearifan lokal, sehingga pertemuan dan kerja sama dalam panggung kebudayaan dinilai perlu diintensifkan.

Teras yang pernah menjadi Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) pun menyebut, semangat moderasi beragama selaras dengan falsafah huma betang yang yang menjunjung tinggi kejujuran, kesetaraan, kebersamaan dan toleransi serta taat pada hukum. Baik hukum negara, hukum adat dan hukum alam.

“Lewat perilaku hidup yang belom bahadat atau hidup beradat sesuai falsafah Huma betang, diharapkan akan mewujud pula Belom Penyang Hinje Simpei atau hidup yang berdampingan, rukun dan damai sejahtera bersama,” ujarnya.

Teras pun mengaku bangga dengan kerukunan umat beragama di Kalteng yang baginya luar biasa. Sebab, ia sendiri mengisahkan bagaimana diberi kepercayaan oleh masyarakat Kalteng sebagai gubernur selama 2 periode, meski secara demografis, umat Islam menjadi mayoritas di provinsi berjuluk Bumi Pancasila tersebut. Itu sebabnya, ia berterima kasih pada kepercayaan tersebut dengan terus berbuat bagi pembangunan Kalteng.

Dalam kesempatan dialog bersama tokoh umat Buddha tersebut, Dwi, salah seorang peserta mengaku terkesan dengan kehidupan masyarakat Kalteng yang rukun dan saling menghargai. Perempuan yang sebelumnya tinggal di Jawa dan kini telah menetap selama 2 tahun, mengaku merasakan betapa kuatnya semangat saling menghargai di tengah keberagaman masyarakat Kalteng.

Sementara itu, Partiyem yang merupakan Pembimas Umat Buddha Kalteng, mengakui hal yang sama. Dalam menjalankan tugas negara dan merasakan penugasan yang membuatnya kadang harus terpisah dari keluarga, ia merasa bahwa suasana kondusif dan rukun di Kalteng amat membantu.

Terkait keberagaman, menurutnya umat Buddha di Kalteng sendiri cukup merasakannya. Umat Buddha di Kalteng saat ini memiliki 5 majelis yang dalam urusan makanan saja memiliki prinsip berbeda. Ada yang vegetarian dan lainnya juga ada yang berbeda memandang soal prinsip vegetarian ini. Meski demikian, ia bersyukur dengan semangat moderasi agama, semua dapat rukun. ist/adn

iklan atas

Pos terkait

iklan atas