Cagar Budaya Huma Hai Perlu Perhatian Pemerintah

  • Bagikan
Anggota Komisi III DPRD Kalteng Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Evi Kahayanti

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM – Kalangan DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng) meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) untuk melakukan revitalisasi maupun rehab pada rumah khas suku Dayak yang masuk kedalam cagar budaya.

Hal ini diungkapkan Anggota Komisi III DPRD Kalteng yang membidangi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Evi Kahayanti, saat dibincangi Tabengan di gedung dewan, pekan lalu. Menurutnya, salah satu cagar budaya yang harus pendapat perhatian dari pemerintah adalah Huma Hai yang terletak di Desa Buntoi, Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis).

“Saat Komisi III melaksanakan kunjungan ke Desa Buntoi, dimana kunjungan tersebut berkaitan dengan tupoksi kami yakni kesehatan dan kepariwisataan, kami melihat salah satu cagar budaya yang sangat memerlukan perhatian, yaitu Huma Hai,” ucapnya.

Wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) I meliputi Kabupaten Katingan, Gunung Mas (Gumas) dan Kota Palangka Raya ini juga mengatakan, saat ini kondisi Huma Hai cukup memprihatinkan karena termakan usia. Sehingga perlu adanya upaya dari pemerintah agar Huma Hai yang masuk dalam cagar budaya bisa direvitalisasi atau di rehab.

“Huma Hai memiliki arsitektur bangunan cukup bagus, unik, menarik dan masuk cagar budaya lokal. Namun kondisinya bisa dibilang cukup memprihatinkan karena atap sudah termakan usia. Sehingga perlu dilakukan revitalisasi atau rehab,” ujarnya.

Selain itu, berdasarkan informasi yang diterima Komisi III dari pengelola Huma Hai, awal pembangunan Huma Hai tersebut merupakan bantuan dari salah satu tokoh Kalteng yaitu Aries M Narang. Sehingga dirinya berharap agar perbaikan Huma Hai bisa menjadi prioritas pemerintah melalui Disbudpar.

“Kalau atap tidak diperbaiki sayang bangunan akan cepat rusak akibat air hujan. Melihat kondisi atap bangunan memang layak  di rehab, karena sudah cukup lama. Akan sangat disayangkan apabila cagar budaya sebagai kearifan lokal masyarakat Dayak tidak mendapat perhatian dan terus tergerus waktu. Jadi Cagar Budaya harus tetap terus dijaga dan pelihara supaya bisa menjadi warisan bagi generasi berikutnya,” pungkas srikandi dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini. nvd

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *