Hj Sunarti: Cuaca Ektrem, Ada Padi Rebah Kena Angin

  • Whatsapp
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Kalimantan Tengah Hj Sunarti
iklan atas

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM- Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Kalimantan Tengah Hj Sunarti ketika dikonfirmasi Tabengan, Rabu (3/2/2021), menegaskan, kondisi yang terjadi di kawasan food estate bukanlah gagal panen.

“Kalau dikatakan gagal panen, itu ketika tidak menghasilkan apapun. Sementara di lapangan, ada juga karena memang seharusnya belum saatnya panen,” ujarnya.

Menanggapi keluhan yang ada, Sunarti menilai faktor alam juga sangat berpengaruh bagi hasil panen petani. Memang sejak akhir Desember hingga saat ini, curah hujan yang turun terjadi dalam intensitas cukup tinggi. Bahkan, beberapa padi telah dilakukan panen ada yang rebah terkena angin.

Seharusnya, kata Sunarti, pelaksanaannya akan efektif apabila menggunakan pola Tanam Pindah (Tapin). Namun, kebanyakan yang terjadi di lapangan, diduga menggunakan sistem Tanam Benih Langsung (Tabela).

”Apabila dengan pola Tapin ditambah menggunakan pupuk nonsubsidi, maka hasilnya bisa subur dan bagus,” jelas wanita murah senyum tersebut.

Terkait optimalisasi dan evaluasi di lapangan, pihaknya akan terus mencoba memberikan pendampingan yang maksimal kepada petani. Misalnya, soal pola tanam yang biasanya hanya 2 kali setahun, untuk membiasakan diri menjadi 3 kali.

Hal ini dinilai mampu dilaksanakan, mengingat peralatan yang modern, teknik budidaya secara teknisnya juga didampingi. Apalagi, lanjut dia, para petani di kawasan terkait rata-rata memiliki lahan dengan luasan melebihi dari 2 hektare.

“Jadi penggarapannya jelas sulit untuk manual, perlu adanya alsintan serta benih yang sesuai dengan standar atau luasan lahan,” jelasnya.

Maka itu, pihaknya perlahan-lahan melaksanakan pendekatan kepada petani untuk bisa mengaplikasikan pertanian modern yang sesuai harapan.

Sementara untuk petani, Sunarti mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengasuransikan para petani yang ada di kawasan food estate.

”Memang sudah kami asuransikan. Apabila terjadi gagal panen, maka ada gantinya,” ujarnya.

Intinya, lanjut dia, para petani mendapatkan premi ganti rugi dari asuransi terkait dengan nilai Rp6 juta per hektare. Menyangkut persoalan gagal panen sendiri, hal itu lebih direpresentasikan apabila tanaman atau padi diserang hama penyakit atau terjadi kekeringan. Sementara apabila dalam kondisi musim hujan saat ini, petani masih bisa melaksanakan panen. drn

iklan atas

Pos terkait

iklan atas