FOOD ESTATE – 109 Peserta Jasindo di Tahai Jaya Alami Penurunan Hasil Panen

  • Whatsapp
Anggota DPD RI Teras Narang
iklan atas

**Teras Berharap Program Ini Berhasil

 PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM– Sejumlah petani di wilayah food estate merasa khawatir pada musim tanam tahun ini hasil dari lahan pertanian yang mereka kelola mengalami gagal panen.

Kepada Tabengan, Rabu (3/2/2021), PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) Cabang Kalteng mengonfirmasi, bahwa ada sebagian lahan di wilayah food estate tersebut mengalami gagal panen, khususnya di Desa Tahai Jaya, wilayah Maliku, Kabupaten Pulang Pisau.

Kepala Cabang Asuransi Jasindo Kalteng Acu Paturohman mengatakan, lahan pertanian yang dimaksud berada di Desa Tahai Jaya. Setidaknya sebanyak 5 kelompok tani dengan jumlah 109 anggota tani yang mengalami gagal panen.

Acu juga mengonfirmasi bahwa luas areal pertanian peserta asuransi Jasindo yang gagal panen adalah seluas 124,5 hektare.

“Iya gagal panen, karena terkena penyakit blas. Penyakit tanaman yang menyebabkan busuk batang padi, sehingga nutrisi tidak sampai ke buah padi,” tuturnya.

Kepala Asuransi Jasindo Kalteng juga mengatakan, sementara ini para petani tersebut telah mengajukan klaim asuransi gagal panen dan prosesnya masih berjalan. “Sedang dalam proses pemenuhan dokumen,” tandasnya.

Sementara itu, berkaitan dengan kabar adanya kegagalan sebagian petani yang melakukan penanaman padi di lahan food estate, membuat Senator DPD RI Dapil Kalteng Agustin Teras Narang menggali informasi dari kepala desa dan petani.

Dalam dialog yang digelar, baru-baru ini, Teras menemukan fakta bahwa memang ada kendala teknis soal bibit dan pola tanam yang dikeluhkan petani. Kendati demikian, ia juga mendengar langsung petani masih optimis dan melihat ada harapan dengan mulai dibangunnya infrastruktur jalan dan jembatan di kawasan pertanian.

“Jadi, perlu koordinasi yang lebih baik lagi sesuai kondisi setempat. Sebab, food estate ini bahkan belum dimulai secara resmi. Baru dalam persiapan dan perencanaan sesuai konsepnya yang terintegrasi. Itu sebabnya saya berkali-kali mendorong agar program ini berkelanjutan. Harapan saya program ini berhasil,” ujar Teras melalui siaran pers, Rabu (3/1/2021).

Teras menambahkan, sejauh ini konsep dan payung hukum food estate ini sendiri belum sepenuhnya dijabarkan pemerintah, sehingga apa yang terjadi di lapangan baru prakondisi dan persiapan yang tidak bisa selesai dalam waktu singkat.

Itu sebabnya, Gubernur Kalteng periode 2005-2015 itu mengaku terus mengawal sembari menyerap aspirasi dari masyarakat yang pada awal pencanangan memiliki banyak perbedaan pendapat. Sembari dia menekankan pentingnya aspek keberlanjutan, sebab isu pangan sendiri telah menjadi isu global yang mesti diantisipasi agar tak memicu krisis pangan.

Menurut Teras, lahan eks PLG yang jadi daerah lumbung pangan memang butuh penataan serta pengelolaan khusus. Hal ini agar kerisauan dan trauma masa lalu terkait lahan ini bisa diantisipasi. Ia berharap seluruh pihak mengawal agar agenda nasional di Kalteng ini untuk kepentingan masa depan bangsa. Tak lupa ia mengapresiasi jajaran pemerintah daerah yang sigap meninjau kondisi di lapangan.

“Saya memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Kalteng dan Kabupaten Pulang Pisau serta aparatur terkait, yang telah memberikan respons positif dan langsung melihat keadaan yang senyatanya di lapangan,” ujarnya.

Teras berharap dengan turun ke lapangan, pemerintah daerah juga dapat memberikan pendampingan dan dukungan pada petani. Selain itu, menjembatani gagasan dari petani dengan jajaran Kementerian Pertanian agar program ini dapat berjalan lancar dan berkelanjutan serta sukses.

“Para petani dan pemerintahan desa yang wilayahnya menjadi lahan food estate sangat bergembira dan terlihat selalu berupaya menyukseskan program tersebut. Semoga ke depan pelaksanaan food estate berjalan lancar dan berhasil sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Presiden Jokowi,” harap Teras.

Dalam dialog yang digelar Teras bersama para kepala desa yang ada di kawasan lumbung pangan, memang diakui ada beberapa kondisi yang membuat beberapa petani mengalami kegagalan. Namun, hal ini disebut karena banyak faktor seperti bibit hingga beberapa warga yang tidak menanam secara serentak. Sementara beberapa petani lain terbilang berhasil.

“Tapi barangkali banyak yang perlu kita evaluasi. Banyak yang perlu jadi bahan pembelajaran kita bersama,” ujar Jasimin, Kepala Desa Tahai Jaya.

Jasimin yang mengaku gagal panen tidak patah semangat dan optimis.  Pada dasarnya Jasimin menilai perlu dukungan pendampingan untuk petani karena ada banyak tantangan yang mesti dihadapi dan disesuaikan di lapangan.

Hal senada disampaikan Suprapto, Kepala Desa Gedabung, Pulang Pisau. Ia mengaku dari pengalaman masa tanam di awal ini dengan menggunakan jenis bibit berbeda serta pola yang berbeda pula, seperti masa tanam yang biasanya 2 kali menjadi 3 kali setahun.

Menurutnya, ini semua perlu dievaluasi dan diatasi bersama. Pihaknya yakin program  ini akan membawa kebaikan bagi warga. Terlebih infrastruktur jalan pertanian dan jembatan pun mulai dibangun hingga 40 kilometer di kawasan tersebut.

“Untuk program food estate termasuk di desa kami Desa Gedabung, kami menyambut baik tentu saja. Karena program ini mulai dirasakan, bahkan infrastruktur sudah ketuk palu. Intinya, kami mengucapkan terima kasih walau program ini kemarin ada yang belum sempurna terkait kegiatan pertanian,” katanya. dsn/adn

iklan atas

Pos terkait

iklan atas