LAGU THOESENG DILAPORKAN- MBAHK: Umat Hindu Kaharingan Diminta Sabar

  • Whatsapp
Ketua Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan (MBAHK) Kalimantan Tengah (Kalteng) Walter S Penyang
iklan atas

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM- Ketua Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan (MBAHK) Kalimantan Tengah (Kalteng) Walter S Penyang bersama Sekretaris MBAHK Kalteng Pranata menyampaikan, pasca-munculnya lagu karya Thoeseng Asang berjudul Halelluya yang memuat kata Ranying Hatalla, menimbulkan keresahan di kalangan umat Hindu Kaharingan.

Menyikapi keresahan tersebut, MBAHK Kalteng memanggil Thoeseng untuk melakukan klarifikasi. Karena klarifikasi tidak membuahkan hasil, MBAHK Kalteng lalu menempuh jalur hukum. Thoeseng dilaporkan ke Polda Kalteng, belum lama ini. Atas laporan tersebut, Polda Kalteng meminta klarifikasi atau keterangan dari para pelapor.

Walter mengatakan, apresiasi dan terima kasih kepada pihak Polda Kalteng yang merespons dengan cepat atas laporan yang diajukan oleh MBAHK Kalteng. Apresiasi ini diberikan menyusul proses yang cukup cepat yang dilakukan Polda Kalteng atas laporan yang disampaikan. Buktinya, pihak Polda meminta keterangan dari 4 pimpinan lembaga.

“Ada 4 pimpinan lembaga yang diminta keterangan, saya sendiri Walter S Penyang atas nama MBAHK Kalteng, kemudian Ketua Parisada Hindu Dharma Kalteng I Nyoman Sudyana, Ketua Lembaga Pengembangan Tandak Intan Kaharingan (LPTIK) Kalteng Parada, dan Ketua Ikatan Cendikiawan Hindu Indonesia (ICHI) Kalteng Tiwi Etika,” kata Walter, yang diamini oleh Pranata, Minggu (24/1), di Palangka Raya.

Walter melanjutkan, sekarang sedang berproses di Polda Kalteng, umat Hindu Kaharingan diminta untuk dapat bersabar menunggu hasil yang dilaksanakan oleh pihak kepolisian. Minta keterangan dari 4 pimpinan lembaga, tentunya sebuah langkah cepat yang dilaksanakan kepolisian.

Walter berharap, umat Hindu Kaharingan tetap tenang. Mari bersama tetap jaga kedamaian di Kalteng. Jaga persatuan dan kesatuan, serta kerukunan antarumat beragama yang selama ini sudah terjalin dengan baik. Semuanya sudah menjadi kewenangan dari pihak kepolisian. Apapun langkah yang ditempuh kepolisian dalam melakukan proses penyelesaian akan diterima, termasuk langkah mediasi.

Keinginan lembaga atas nama masyarakat, tegas Walter, sederhana yakni meminta agar konten lagu tersebut dihapus. Apabila memang masih ingin dipertahanankan, hilangkan kata Ranying, dan terakhir meminta maaf atas apa yang dilakukan, kemudian upload juga di Youtube.

Apabila ada lembaga lain atau pihak lain yang ingin ikut campur, lanjut Walter, MBAHK secara kelembagaan atau umat Hindu Kaharingan secara person, tidak ingin memberikan komentar apapun. Permasalahan ini murni antara MBAHK dan Thoeseng Asang. Sekarang ini sudah diserahkan di kepolisian, biarkan kepolisian yang menyelesaikan tugasnya.

Masyarakat, imbuh Walter, hendaknya menahan diri, tetap menjunjung tinggi asas hukum dan menjaga perdamaian yang selama ini sudah terjalin. Jangan mudah terpancing dengan isu-isu yang berkembang di luar.ded

iklan atas

Pos terkait

iklan atas