Wanita Dayak Maanyan Jadi Pelayan Injil di Jerman

  • Whatsapp
Rikariati dan suaminya Andre Kho
iklan atas

PALANGKA RAYA – Siapa sangka, seorang wanita Dayak Maanyan kelahiran Desa Jaar, Kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah, 25 Agustus 1981, saat ini menjadi utusan Injil asal Indonesia di salah satu negara Eropa, Jerman.

Dia adalah Rikariati, putri dari pasangan Alexander dan Ainon. Selepas menyelesaikan SMA di Tamiang Layang, wanita yang akrab disapa Rika ini menyelesaikan S1 dan S2 pendidikan Theologia di Sekolah Tinggi Satyabhakti, Malang, Jawa Timur. Menikah dengan Andre Kho, Pelayan Injil berdarah Chinese dan saat ini menetap di Jerman.

“Rikariati, nama yang aneh bagi orang Jerman. Karena hanya terdiri dari satu kata dan tidak memiliki nama keluarga atau family name. Meskipun suami saya memiliki nama family ‘Kho’ tetapi orang Indonesia tidak memiliki aturan bahwa ketika menikah maka nama family suami menjadi nama family istri.  Sehingga di dokumen-dokumen resmi saya di Jerman, nama saya menjadi Rikariati Rikariati,” bebernya kepada Tabengan melalui pesan WA, Minggu (17/1).

Anak ke-5 dari 7 bersaudara itu lalu bercerita, sejarah nama Rika diambil dari doa dan kerinduan seorang ibu yang berharap suatu kelak nanti anaknya akan dapat berkunjung ke negara Amerika.

“Sesuai dengan doa seorang misionaris kepada ibu saya, yang mengatakan anak yang di kandungan ini akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Apa artinya menjadi berkat bagi bangsa-bangsa? Jangan kan ke bangsa-bangsa, pergi ke Pulau Jawa saja sepertinya tidak mungkin. Dan, mungkin nama adalah doa sehingga saya pernah pergi untuk berkhotbah dan bukan hanya jalan-jalan ke beberapa negara seperti Malaysia, Kamboja, Belanda, Jerman dan Perancis,” imbuhnya.

Setelah lulus Sarjana Teologi dari STT Satyabhakti Malang, Rika melayani di sebuah Lembaga Misi bernama One Hope ministry. Dia melayani di OneHope sejak 2004-2014. Selama 10 tahun itu sudah mengunjungi banyak kota di Indonesia dan 23 provinsi.  Rika dan teman-teman mengunjungi kota-kota.

Pada 2015, Rika dan suami memutuskan pindah dari Malang ke Palangka Raya. Alasan kepindahannya, karena merasa ingin berbuat sesuatu untuk tanah kelahiran, Kalteng.   Jadi mereka tinggal di Palangka Raya selama 2 tahun dan membantu melayani di GSJA Adonai Shammah Palangka Raya dan membantu mengajar di STT Dian Eka Sabda, Tumbang Samba.

Karena Andre Kho sang suami pernah kuliah dan tinggal di Jerman selama 11 tahun, 1986-1997, dan merintis persekutuan mahasiswa Kristen Indonesia di Berlin, sampai sekarang persekutuan itu masih ada dan menjadi sebuah gereja Indonesia di Berlin, maka pada Mei 2017 Rika dan suaminya mengunjungi Jerman selama 3 bulan dan membantu melayani di Gereja International di Kota Aachen. Pendeta dari gereja ini adalah sepasang suami istri orang Indonesia yang sudah menjadi warga negara Jerman.

“Aachen adalah kota kecil berbatasan dengan Belanda. Kota ini terkenal dengan univeristasnya dan banyak mahasiswa Indonesia yang studi di kota kecil ini. Kebanyakan dari mereka terinspirasi dari Presiden ke-3 Indonesia BJ Habibie yang menyelesaikan studinya di kota ini. Kami tinggal 3 bulan di Kota Aachen dan selama 3 bulan itu kami merasa yakin dengan keputusan kami untuk menjadi misionaris di Jerman,” imbuhnya.

Bulan Juni 2017 mereka kembali dari Jerman ke Indonesia dan bertemu dengan Departemen Misi Luar Negeri Gereja Sidang Jemaat Allah di Indonesia, di mana mereka terdaftar sebagai pendeta. Mereka menyampaikan rencana untuk pindah dan melayani di Jerman.  Maka mereka berangkat pindah ke Jerman 23 Oktober 2017.

“Selama 2 tahun bertugas di Kota Aachen dan sejak Januari 2020 kami pindah ke Berlin, Ibu Kota Jerman untuk memulai Gereja International yang akan kami beri nama Lighthouse Church Berlin. Sekarang kependataan saya juga terdaftar dan diakui di Asosiasi Gereja Pentakosta seluruh Jerman.  Sehingga saya bisa dengan resmi berprofesi sebagai pendeta atau rohaniawan di Jerman,” ungkapnya.

Pandemi yang juga melanda Jerman membuat situasi di sana cukup sulit Pertemuan-pertemuan dibatasi dan mengadakan pertemuan seperti kegiatan Bible Study diadakan melalui zoom meeting. Selain kegiatan Bible Study, Andre Kho, sang suami juga melayani sebagai sukarelawan.

“Suami saya membantu mengajar Bahasa Jerman kepada pengungsi dari Timur Tengah dan juga kepada anak-anak korban perang dari Timur Tengah.  Suami saya juga menjadi sukarelawan di gereja pemerintah Jerman dalam kegiatan memberikan makanan kepada tunawisma dan orang-orang yang kekurangan khususnya dalam kondisi Covid-19 sekarang,” ujarnya.

Kepada generasi muda Dayak, Rika berpesan agar memiliki semangat untuk belajar. Bukan hanya belajar secara formal tetapi informal, dan memiliki keinginan untuk maju.  Harapan Rika, anak-anak muda Dayak berani bercita-cita besar.

“Saya berharap anak-anak muda Dayak tidak melupakan Tuhan yang menciptakan mereka.  Mari memakai hidup kita untuk sesuatu yang bernilai kekal, yang dampaknya terus ada bahkan ketika kita sudah tiada,” tandasnya. dsn

iklan atas

Pos terkait

iklan atas