Budidaya Bawang Dayak di Kecamatan Seranau

21

Tabengan.com – Bagi sebagian masyarakat Kotawaringin Timur mungkin cukup asing ketika mendengar tanaman bawang Dayak. Tanaman ini kini mulai banyak dibudidayakan oleh warga Kelurahan Mentaya Seberang, Kecamatan Seranau. Berbeda dari bawang pada umumnya yang biasa digunakan untuk bumbu masak, bawang Dayak umumnya digunakan untuk obat-obatan.

Salah seorang petani yang mulai membudidayakan tanaman bawang Dayak ini adalah Mohammad Zainudin. Ketertarikannya menanam bawang Dayak ini berawal dari saat mendengar informasi permintaan bawang Dayak yang lagi meningkat. Karena dari penelitian beberapa pihak, ternyata bawang Dayak memiliki banyak manfaat sebagai obat, sehingga kebutuhan bawang dayak untuk obat meningkat.

“Menanam bawang Dayak ini sejak 10 bulan lalu. Dulunya bertanam jahe, serai dan bumbu-bumbuan. Tidak ada kesulitan budidaya, hanya awalnya terbatas bibit. Awalnya membeli bibit hanya sedikit, kemudian menyemai dari hasil panen. Panen bawang Dayak ini sekitar 4 bulan, hasilnya antara 4-5 ons dalam 1 rumpun,” terangnya saat ditemui wartawan, Minggu (21/1).

Menurutnya, saat ini banyak digunakan untuk obat, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol bahkan kanker. Produksi bawang Dayak saat ini belum terlalu banyak, sehingga pihaknya hanya menerima pesanan terbatas. “Kita tidak bisa menerima pesanan banyak, karena masih tahap perluasan lahan,” tandas Zainudin.

Untuk peminat bawang Dayak ini, terangnya, tidak hanya di Kalteng saja, tetapi juga dari luar Kalteng. Saat ini, lanjutnya, pihaknya kewalahan menerima pesanan. “Bahkan pernah dipesan 100 kilogram bawang Dayak dari daerah Buton, Sulawesi Tenggara,” ungkapnya.

Luasan lahan tanaman bawang Dayak di Mentaya Seberang, ujarnya, sekitar 20×40 meter persegi dengan jumlah 20 petak. Untuk satu petak terdapat sekitar 50 rumpun hingga 200 rumpun. Untuk satu rumpun berat bersih bawang Dayak sekitar 3 ons.

“Harga jualnya, kalau yang non organik sempat turun hingga Rp50 ribu per kilogram, yang organik harganya masih bisa Rp75 ribu per kilogram. Saat ini pengembangan bawang Dayak organik dilakukan bersama-sama dengan ibu-ibu Posyandu,” tandasnya.

Agar tanaman bawang Dayak ini memiliki nilai jual yang tinggi, maka sebagian petani bawang Dayak di Kecamatan Seranau ini menggunakan pupuk organik.

“Kita bertanam organik, makanya pemupukan secara organik. Pupuk organik ini berasal dari abu kotoran hewan, dan dari tanaman sekitar. Gulma-gulma tanaman dijadikan pupuk,” tambahnya.

Untuk membuat pupuk organik ini, jelasnya, sepenuhnya memanfaatkan alam sekitar lingkungan. “Bahannya kotoran hewan, gulma tanaman, batang pohon kelapa, rumput,dan lain-lain. Selanjutnya, alat permentasi ditambahkan pupuk organik cair. Sampah-sampah umah tangga seperti sayur bisa jadi pupuk, bisa untuk tanaman rumahan,” lanjutnya.

Disampaikannya, pupuk organik ini untuk bisa digunakan, secara teori membutuhkan waktu 20 hari untuk permentasi. “Tapi kalau secara fisik sudah dingin berarti sudah jadi. Keunggulan pupuk organik, hemat karena bahan dari lingkungan sndiri, masa penggunaan lama selama tanah subur bisa terus dimanfaatkan hingga bertahun-tahun,” urainya.

Kalau pupuk kimia, sebutnya, paling lama 3 bulan. Sedangkan pupuk organik semakin lama semakin bagus. “Dari awal kita membiasakan menggunakan pupuk organik, kita ingin ramah terhadap lingkungan, sehingga tidak menggunakan zat-zat kimia,” pungkasnya. arbit safari

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here