Praktikkan Toleransi, Banser Mura Jaga Gereja

  • Bagikan

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM- Tidak hanya personel TNI maupun Polri, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) juga aktif melakukan pengamanan gereja saat ibadah Hari Raya Natal 2020, Jumat (25/12/2020).

“Hal ini kita lakukan sebagai bentuk perwujudan dari Islam ahlussunah waljama’ah, Islam moderat, Islam yang ramah, Islam yang toleran dan menjunjung tinggi perbedaan,” ucap Korwil 6/Banser Wilayah Barito, Rahmanto Muhidin.

GP Ansor dan Satkorwil Kabupaten Murung Raya melaksanakan pengamanan ibadah Natal umat Kristiani di sejumlah gereja pada wilayah Kecamatan Murung dan Permata Intan dengan menurunkan 25 personel.

Banser hampir merata melakukan kegiatan yang sama di seluruh wilayah indonesia. Ketua PAC Ansor Murung Alamsyah mengatakan pengamanan ibadah natal di Gereja Eklesia, Gereja Santo Klemes, Gereja Hosana dan yang lainnya. Kasatkorcab Eko Fatmono menyampaikan program pengamanan ibadah Natal di gereja-gereja adalah perdana di tahun 2020 ini. Anggota Banser Murung Raya berjumlah 130 orang namun sebagian Banser tidak berada di dalam kota Puruk Cahu karena dalam keadaan libur.

Rahmanto Muhidin menjelaskan kegiatan pengamanan tempat Ibadah oleh Banser membantu TNI dan Polri dilakukan setiap tahun sebagai wujud toleransi antar umat beragama dan dalam rangka merawat NKRI yang bhineka tunggal ika.

“Islam sebagai agama mayoritas harus mampu melindungi dan mengayomi agama minoritas d RI ini,” tegas Rahmanto.

Dia juga mengingatkan peristiwa pengorbanan anggota Banser Mojokerto yang gugur saat mengamankan bom ketika ibadah Natal.

Pihaknya menerapkan falsafah huma betang untuk Kalteng sebagai komitmen dan rule model yang telah dibuat oleh para pendiri kalteng dan menjadi kewajiban bersama untuk terus mengaplikasikan dalam tatananan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

“Mari kita menjalankan perintah dan larangan agama masing-masing karena semua agama pasti memandu kita kepada jalan kebaikan, mengajarkan saling menghormati dan menghargai antar sesama. Agama jangan dijadikan komoditas politik. Kalaupun terjadi, masyarakat harus paham dan tahu tentang hal tersebut,” pungkas Ramanto. dre

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *