POSTING UJARAN KEBENCIAN- Simpatisan FPI di Mura Ditangkap

  • Bagikan
DITANGKAP- Direktur Reskrimsus Kombes Pol Pasma Royce bersama Kabid Humas Kombes Pol Hendra Rochmawan menunjukkan barang bukti kejahatan ITE yang dilakukan FA.TABENGAN/FERRY WAHYUDI

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM- Seorang pria asal Bukit Tinggi, Kelurahan Beriwit, Kecamatan Murung, Kabupaten Murung Raya, diciduk Subdit V Cyber Ditreskrimsus Polda Kalteng. FA (30) ditangkap setelah rutin mengunggah ujaran kebencian di akun Instagram palsu miliknya, Selasa (15/12/2020) lalu.

Aksi kejahatan FA terendus setelah postingannya yang menggunakan akun palsu atas nama sry_mutmut_zee memosting ujaran kebencian tentang ulama terkenal Abah Guru Sekumpul. Atas postingannya tersebut, ratusan netizen geram dan membuat postingannya viral.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kalteng Kombes Pol Pasma Royce mengatakan, dalam menjalankan aksinya tersangka menjiplak akun Instagram milik artis lokal di Murung Raya dan melakukan unggahan bernada kebencian terhadap pemerintah dan ulama.

Akun palsu tersebut dibuat tersangka sejak Mei 2020 dan baru aktif melakukan postingan baik berupa caption, video dan lainnya bernada ujaran kebencian pada Juni 2020. Dalam sehari, tersangka mampu memosting ujaran kebencian hingga 3 unggahan di akun palsu Instagram.

“Tersangka kita ciduk setelah Subdit V Cyber melakukan patroli siber di media sosial dan menemukan ujaran kebencian yang membuat resah warganet Kalimantan Tengah. Setelah melakukan profiling dan bekerja sama dengan Polres Murung Raya, Polres Barito Utara dan Polsek Murung, tersangka berhasil ditangkap,” katanya didampingi Kabid Humas Kombes Pol Hendra Rochmawan, Rabu (23/12/2020).

Dari pemeriksaan terungkap, tersangka merupakan salah satu simpatisan ormas Front Pembela Islam (FPI). Tersangka selalu mengikuti perkembangan nasional mengenai FPI baik di media televisi dan media sosial.

“Kebenciannya terhadap pemerintah itu lalu dilampiaskan dengan media sosial Instagram. Setidaknya ada 35 akun media sosial yang kita temukan di handphonenya. Saat ini pendalaman masih dilakukan atas sepak terjang tersangka,” urainya.

Pasma menambahkan, dalam kesehariannya tersangka dikenal tertutup dan jarang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Media sosial menjadi tempat pelampiasannya dalam berkomunikasi.

“Atas perbuatannya, tersangka kita jerat Pasal 45 ayat (2) jo Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 19 Tahun 2016 Perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Pidana penjara paling lama 6 tahun atau denda maksimal Rp1 miliar,” tegasnya. fwa

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *