KISAH 6 ABK SELAMAT SAAT KAPALNYA TENGGELAM

  • Bagikan
EVAKUASI - Proses evakuasi terhadap 6 ABK kapal tenggelam di perairan Laut Jawa. ISTIMEWA

*Naik Rakit, Terombang-ambing 27 Jam dan Hanya Makan Mie Instan

SAMPIT/TABENGAN.COM – Nakhoda KLM Armada Bahari Mulya, M Ishak, sudah pasrah saat kapalnya tenggelam diterjang ombak di Laut Jawa, Rabu (16/12/2020) pagi.  Dia bersama 5 ABK lainnya menyelamatkan diri dengan mengunakan sebuah rakit. Kapal ini membawa pupuk sekitar 600 Ton dengan tujuan Kendawangan, Kalimantan Barat.

M Ishak menceritakan, mereka berangkat dari Gresik, Jawa Timur tanggal 14 Desember,  jam 20.00 WIB. Pada tanggal 15 Desember cuaca masih bagus. Kemudian  pada tanggal 16 Desember pagi, badai sudah mulai datang. “Kurang lebih ombak tingginya 2 setengah meter. Terus saya perintahkan agar kapal membelakangi ombak agar tidak terlalu besar  goncangannya,” terangnya saat dibincangi wartawan, Senin (21/12/2020).

Meski kapal sudah membelakangi ombak, namun  air tetap bertambah banyak yang masuk ke dalam kapal. “Air masuk dari samping kapal dan belakang kapal. Pompa di dalam kapal sudah dikerahkan semuanya, namun air semakin bertambah,  akhirnya sekitar pukul 09.00 WIB pagi, kapal tenggelam. Tapi saat itu kami sudah meninggalkan kapal, berada di atas rakit. Kami sudah siap-siap sebelum kapal tenggelam,” kisahnya.

Setelah meninggalkan kapal menggunakan rakit, perjuangan berat mereka baru saja dimulai. Mereka terombang-ambing oleh ombak besar. “Langit gelap, hujan turun lebat dan ombak besar. Rakit kami beberapa kali dihempas ombak, kami yang diatas rakit terpental ke laut. Setelah itu kami berenang lagi menuju rakit. Itu beberapa kali terjadi,” sambungnya.

Untuk bertahan hidup di atas rakit tersebut, M Ishak dan anak buahnya hanya mengandalkan mie instan mentah saja. Itupun mereka makan sedikit-sedikit. “Kami sebetulnya sempat menghubungi kapal-kapal yang ada di sekitar kapal kami menggunakan radio, namun tidak ada yang respon,” lanjutnya.

Setelah 27 jam terombang-ambing di laut, Kamis (17/12/2020) sekitar pukul 14.00 WIB, rakit mereka berpapasan dengan sebuah kapal kargo menuju Sampit dari Kendal Jawa Tengah. Kapal tersebut kemudian menolong mereka.  “Kapal yang lewat menolong kami itu memang pas melintas di dekat rakit kami, jadi terlihat oleh mereka kami terombang-ambing di laut. Jika posisi kapal itu jauh, mungkin kami tidak terlihat karena kondisi ombak tinggi,” ungkapnya.

M Ishak mengaku dirinya sudah sempat pasrah. Sebab  kalau tidak ada kapal yang membantu, mungkin sudah tidak tahu lagi nasibnya seperti apa. “Namanya cuaca buruk, kan tidak ada nelayan tidak ada kapal yang berlayar. Kalau malam tuh ada lihat kapal, tapi jauh-jauh dari rakit kami,” katanya.

Kapal yang membawa mereka itu merupakan kapal perusahaan kayu lapis dan berlayar hanya sampai muara Sungai Mentaya. Jumat  (18/12/2020) subuh , mereka tiba di muara Sungai Mentaya, kemudian dijemput nelayan naik ke Ujung Pandaran, setelah itu dibawa ke Sampit.  Setelah tiba di Sampit, mereka ditampung di Kantor PT Rahmat Pandawa Utama. Kesehatan mereka diperiksa oleh petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP).

“Alhamdulillah sudah ditolong oleh KKP di Sampit dan sehat semua, cek rapid test di Neo Sigma negatif semua 6 kru ini. Setelah laporan resmi dari Syahbandar , langsung dipulangkan ke rumahnya masing-masing. Selanjutnya terserah mereka dengan pemilik kapal,” terang M Rasyid, Direktur PT Rahmat Pandawa Utama.

Rasyid mengatakan,  dirinya tidak ada hubungan dengan KLM Armada Bahari Mulya yang tenggelam tersebut. Dia hanya kenal dan diminta tolong oleh pemilik kapal untuk mengurus 6 ABK tersebut.  “Untuk pemulangan ke daerah masing-masing, menunggu jadwal kapal dari pelabuhan Sampit ke Semarang,” pungkasnya. c-arb

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *