PSBB Kewenangan Kabupaten/Kota

  • Bagikan
Wakil Ketua Satgas Penanggulangan Covid-19 Provinsi Kalteng dr Suyuti Syamsul

**Pasien RSUD Doris Belum Penuh

 PALANGKA RAYA– Pasien positif Covid-19 di Kalimantan Tengah terus bertambah setiap harinya. Namun, sampai sekarang belum ada kabar apakah akan ada penetapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau tidak.

Wakil Ketua Satgas Penanggulangan Covid-19 Provinsi Kalteng dr Suyuti Syamsul menyampaikan, keputusan penerapan PSBB kebijakannya ada di kabupaten/kota. Pemberlakuan penerapan PSBB tergantung analisis dari masing-masing Tim Satgas daerah, sementara provinsi hanya memfasilitasi.

“Kalau untuk PSBB itu sepenuhnya menjadi keputusan kabupaten dan kota. Provinsi hanya sebatas memfasilitasi. Prinsipnya kalau daerah menganggap perlu, tentu kami fasilitasi, tetapi sebetulnya pencegahan itu tidak harus PSBB, kalau menurut saya penegakan disiplin protokol kesehatan pencegahan Covid-19 jauh lebih penting,” kata Suyuti, Senin (14/12).

Menurut Suyuti, kenyataannya PSBB itu juga sering secara formal saja. Maksimal atau tidaknya penerapan PSSB itu tergantung dari penerapannya di lapangan. Lebih efektif kalau ada aturan, misalnya Peraturan Bupati atau Wali Kota tentang peningkatan disiplin, seperti pembatasan jumlah orang maksimal dalam suatu kegiatan.

Penerapan PSBB juga sebetulnya berbiaya mahal, sehingga banyak daerah merasa tidak memungkinkan dan tidak rasional karena berbagai faktor, termasuk pertimbangan anggaran.

Sementara itu, terus bertambahnya kasus baru di Kalteng bermula dari libur panjang. Orang bepergian ke daerah yang sebelumnya belum terkendali kasus Covid-19, kemudian balik lagi ke daerah asal. Setelah itu menyebar ke mana-mana virusnya, belum lagi orang bepergian kecenderungannya menggunakan tes antibodi, padahal risiko melesetnya sangat besar.

Menurutnya, mengisi kartu kewaspadaan kesehatan elektronik, Health Alert Card (HAC) di bandara tidak efektif karena tanda orang itu terinfeksi atau tidak dan tidak ada yang memverifikasi, tergantung kejujuran yang bersangkutan mengisinya, sehingga risiko penularan itu masih besar.

Kemudian perlu dipahami saat ini hampir seperti tidak ada pandemi, aktivitas sosial kemasyarakatan sudah berjalan seperti hari-hari biasa sebelum ada pandemi, sehingga sangat wajar terjadi peningkatan. Kemudian masyarakat yang tidak percaya Covid itu ada juga masih banyak.

“Saya masuk di grup media sosial, sebagian besar orang tidak percaya bahwa Covid itu ada, dan ketika ada orang tenaga kesehatan yang mencoba memberikan informasi, malah di-bully rame-rame, ini menjadi persoalan. Hal ini menyebabkan orang yang sebelumnya setengah percaya bahwa Covid itu ada, sekarang tidak percaya. Ini masalah dan bagaimana mengatasinya,” imbuh Syuti.

Di sisi lain, di Kalteng ini kasus baru terus bertambah karena memang hasil tracing, sehingga angka yang ditemukan juga makin banyak, sebab pihaknya berharap semua kontak erat ditemukan. Hal ini membuat jumlah sampel yang masuk setiap hari 1.000 lebih dan anggap saja positif ratenya masih di 15 persen, maka minimal 150 kasus baru setiap harinya.

“Tetapi kan meningkatnya itu karena memang kita kejar habis kontak erat, karena kalau tidak, risiko penularan ada di mana-mana. Kalau tracingnya rendah, maka angka positif juga rendah. Karena prinsip epidemiologisnya itu kejar sampai habis dengan berbagai risiko. Kabupaten/kota itu luar biasa, siapa pun kontak erat itu dikejar,” kata Suyuti.

Sementara itu, Humas RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya dr Riza Syahputra menyampaikan, sampai dengan Minggu (13/12), sebanyak 60 pasien yang dirawat di ruang isolasi. Dari jumlah tersebut 42 orang positif, sementara 18 orang masih menunggu hasil tes PCR. Kapasitas rumah sakit maksimal sampai 100 pasien.

“Yang dirawat di rumah sakit ini yang kondisi gejala sedang dan berat. Yang tanpa gejala menjalani isolasi mandiri di rumah. Rumah sakit masih belum penuh karena memang sejumlah daerah juga sudah bisa rawat pasien Covid,” kata Rizal.

Sebelumnya saat kasus mulai berkurang, kondisi di ruangan perawatan di rumah sakit juga sudah banyak yang sudah kosong, bahkan Ruang Anggrek sudah dibersihkan dan dibuka lagi untuk perawatan biasa. Namun dengan adanya peningkatan kasus ini, kembali lagi dibuka Ruang Anggrek untuk perawatan Covid. Saat ini juga belum ada pengembangan rumah sakit. yml

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *