UMKM sebagai Pondasi Ekonomi saat Krisis Akibat Pandemi

  • Bagikan
PAPARAN- Kepala OJK Kalteng Otto Fitriandy saat paparan di acara Afternoon Tea bersama pimpinan perbankan, lembaga keuangan dan media massa, akhir pekan kemarin. TABENGAN/DANIEL

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM – Kepala Cabang Bank Rakyat Indonesia (BRI) Palangka Raya, Setyo mengapresiasi upaya pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terkait pemberian stimulus, relaksasi dan restrukturisasi kredit selama pandemi Covid -19 yang hingga kini belum teratasi.

“Kondisi memang luar biasa saat ini. BRI mengapresiasi OJK, dengan relaksasi dan restrukturisasi 2020 menjadi 2021, 2020 menjadi 2022,”  ujar Setyo saat kegiatan Afternoon Tea, di halaman belakang kantor OJK Kalteng, akhir pekan kemarin.

Selanjutnya, Pemimpin Cabang BRI Palangka Raya ini mengatakan bahwa hal tersebut membawa manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat, juga tentunya kepada perbankan. Secara khusus adalah Himbara sebagai lembaga jasa keuangan, yang mana akan berdampak pada profitabilitas pada jasa keuangan.

“Karena jika tidak disupport OJK kredit-kredit di bank menjadi bermasalah di tengah kondisi seperti ini,’ imbuhnya.

Dikatakannya pula, baik dari segmen UMKM maupun retail, bahkan sampai menengah maupun korporasi, Himbara pun tidak luput dari dampak pendemi ini.

“Relaksasi dan restrukturisasi diperpanjang, bukan berarti kita memanfaatkan itu tetapi moral hazat kita tetap akan kita pakai untuk menjalankan stimulus tersebut,” tambahnya.

Selain itu diakui Setyo bahwa tidak semua kredit mengalami pertumbuhan. Namun secara pasti ada pertumbuhan adalah di segmen UMKM. Karena pertumbuhan ini didukung oleh pemerintah juga dengan beberapa stimulus-stimulus.

Setyo juga mengatakan banyak stimulus yang dilakukan dengan subsidi bunga, hal itu yang dimanfaatkan oleh pelaku usaha. Tetapi tidak semua pelaku usaha juga bisa memanfaatkan.

“Subsidi KUR kita ada subsidi bunga Himbara. Tetapi tidak semua UMKM, sistem kehati-hatian, selektif itu pasti,” ujarnya lagi.

Setyo mengharapkan dengan adanya subsidi tersebut ekonomi tetap bisa tumbuh. Para pelaku usaha bisa terus berkelanjutan karena pondasi utama ekonomi adalah pelaku UMKM. Kalau UMKM sudah stagnan maka ekonomi tidak tumbuh bahkan minus.

Hal tersebut terbukti pada saat krisis-krisis sebelumnya. Tetapi tahun ini yang paling parah pada 2020 karena Covid-19.

“Ini menunjukkan kepada kita bahwa UMKM ini adalah pondasi yang paling kuat yang harus diperkuat lagi,” imbuhnya mempertegas.

Setyo menambahkan untuk saat ini pelaku usaha atau nasabah yang besar tidak konsumtif. Masih tetap menaruh uangnya di bank dan jarang dipakai. “Karena mereka berinvestasi kepada hal-hal yang pasti,” tandasnya. dsn

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *