MANYUK LAUK – Budaya Menangkap Ikan Ramah Lingkungan

  • Whatsapp
MANYUK LAUK - Budaya Menangkap Ikan Ramah Lingkungan
LOMBA - Panitia memasukan berbagai jenis ikan ke kolam dalam kegiatan Manyauk Lauk yang dilaksanakan UPT MUseum Balanga Kalteng, sebagai bentuk pelestarian dan sosialisasi atas kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat dayak di Kalteng, Selasa (17/11) di Palangka Raya. TABENGAN/DEDY
iklan atas

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM – Kehidupan suku Dayak di bumi kalimantan sangat luar biasa. Alam menyediakan semua yang dibutuhkan masyarakat untuk bertahan hidup, baik untuk kebutuhan sehari-hari, maupun jangka panjang. Masyarakat suku Dayak tidak perlu bersusah payah dalam mengambil hasil alam. Bentuk penghargaan terhadap alam, masyarakat suku Dayak mengambil hasil alam dengan tetap mempertahankan kelangsungannya.

Salah satu cara yang dilakukan masyarakat suku Dayak dalam mengambil hasil alam, supaya tidak merusak adalah dengan menggunakan bahan yang ramah lingkungan seperti tanggok atau dalam Bahasa Dayak disebut Sauk. Sauk merupakan alat menangkap ikan yang terbuat dari rotan, yang digunakan untuk menangkap ikan.

Berjalan waktu, menangkap ikan dengan cara tradisional atau konvensional ini semakin jauh tertinggal. Perkembangan berbagai peralatan dan teknologi, membuat menangkap ikan dapat dilakukan dengan cepat, dan hasil yang melimpah. Upaya pelestarian menangkap dengan Sauk, berupaya terus dilestarikan, salah satunya dengan menggelar lomba Manyauk Lauk.

Lomba yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng melalui UPT Museum Balanga ini, sebagai bentuk pelestarian terhadap budaya yang ada di Kalteng. Bagaimanapun, kearifan lokal di Kalteng wajib untuk terus dipertahankan dan dilestarikan, serta sebagai sumber wisata yang mampu meningkatkan pendapatan asli daerah.

Kepala UPT Museum Balanga Kalteng Hasanudin, mengatakan, lomba Manyauk Lauk bukanlah hal yang baru dilaksanakan di Kalteng. Tahun-tahun sebelumnya, lomba yang dilaksanakan adalah Mangaruhi atau menangkap ikan dengan tangan.

“Lomba kali ini dilaksanakan dengan cara yang berbeda, sehingga diberi nama Manyauk Lauk. Tidak semata melestarikan dan mempertahankan budaya, lomba yang dilaksanakan juga ingin memperkenalkan alat tradisional yang digunakan masyarakat suku Dayak dalam menangkap ikan, dan alat tersebut dipamerkan di UPT Museum Balanga Kalteng,” kata Hasanudin, Selasa (17/11) di Palangka Raya.

Dia katakan, masyarakat Dayak sangat menghargai alam, sehingga apa yang ada di alam tidak diabil dan langsung dihabiskan, namun tetap memperhatikan kelangsungan dari alam tersebut. Harapan besar, masyarakat Kalteng dapat bersama melestarikan dan mempertahankan budaya ini dengan sebaik mungkin, dan menjadi warisan terus menerus.ded

 

iklan atas

Pos terkait

iklan atas