Diduga Langgar Prokes, Lion Klaim Sesuai Prosedur

  • Whatsapp
Diduga Langgar Prokes, Lion Klaim Sesuai Prosedur
Ilustrasi Pesawat Lion Air saat berada di landasan Bandar Udara Tjilik Riwut.ISTIMEWA
iklan atas

PALANGKA RAYA/TABENGAN.COM– Muncul pemberitaan dugaan Lion Group dalam hal ini Lion Air telah melakukan pelanggaran protokol kesehatan (prokes) dalam upaya pencegahan dan terciptanya klaster Covid-19 melalui jalur penerbangan. Kejadiannya pada Jumat (30/10) lalu, rute Palangka Raya-Surabaya.

Merespons pemberitaan tersebut, Corporate Communications Strategic of Lion Air Group Danang Mandala Prihantoro kepada Tabengan mengatakan, dalam penerbangan Lion Air no JT-683 (30/10) rute Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya (PKY) ke Surabaya melalui Bandara Internasional Juanda di Sidoarjo (SUB) dioperasikan dengan Boeing 737-900ER (kapasitas 215 kelas ekonomi).

Menurut Danang, pihak Lion Air tetap mengutamakan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan. Jumlah tingkat keterisian penumpang (seat load factor) dapat terjadi melebihi dari batasan kapasitas angkut penumpang yang ditetapkan.

“Lion Air membawa 205 penumpang, yang terdiri 105 penumpang kategori grup (group bookings/family group) dan 100 penumpang secara perorangan,” bebernya.

Danang menegaskan, Lion Air selalu menjalankan operasional sebagaimana pedoman prokes, seperti tetap menggunakan masker, melampirkan surat uji hasil kesehatan dan tetap menjaga kebersihan.

Kemudian terkait dengan kapasitas angkut penumpang pesawat udara Lion Air yang diberikan batasan dalam jumlah yang diangkut, maka penumpang tertentu akan ada duduk berdampingan (bersebelahan dan tidak ada jarak).

Menurutnya, hal ini tidak dapat dihindari, namun sebagai operator penerbangan, Lion Air mengatur (menata) penempatan pada tempat duduk (seat arrangement) penumpang agar lebih meminimalisir dampak.  Sedangkan untuk kelompok penumpang dimaksud pada penerbangan adalah perjalanan grup dari keluarga atau rombongan tertentu (group booking) yang menginginkan dalam satu penerbangan dengan duduk berdekatan (satu baris) atau penumpang kategori PCR/swab hasil negatif.

“Penumpang yang bukan dalam satu keluarga atau rombongan tertentu akan diusahakan ada jarak duduk antarpenumpang,” ujarnya lagi.

Selain itu, jelas Danang, kepada publik dan penumpang Lion Air, semua awak pesawat (kru) dan penumpang yang masuk ke dalam kabin pesawat udara telah melaksanakan rapid test Covid-19 atau PCR/swab dengan hasil non-reaktif atau negatif. Dalam hal ini, orang-orang tersebut dinyatakan sehat dan layak terbang.

Selanjutnya, semua kru dan penumpang sebelum masuk ke kabin pesawat, telah dilakukan pengecekan kesehatan dan dokumen kesehatan oleh instansi yang diberikan kewenangan.

Lalu penumpang yang lolos untuk melapor (check-in) adalah orang yang telah memenuhi ketentuan kesehatan dan dokumennya dinyatakan valid. Pemeriksaan kesehatan awak pesawat tetap dijalankan sebelum penerbangan (pre-flight health check), guna menentukan kondisi sehat serta layak terbang (safe for flight).

Danang menyebut, pesawat yang dioperasikan dilengkapi High Efficiency Particulate Air (HEPA) filter atau penyaringan partikel kuat dengan tingkat 99,9+ persen menghilangkan partikel, seperti virus, bakteri dan jamur, guna membuat sirkulasi udara dalam kabin terjaga baik.

Semua pesawat sebelum dan setelah terbang dilaksanakan penyemperotan disinfektan setiap hari, dalam upaya memastikan sterilisasi dan kebersihan pesawat.

Sebagai informasi, International Air Transport Association (Asosiasi Pengangkutan Udara Internasional; disingkat IATA) dalam artikel penjelasan IATA Calls for Passenger Face Covering and Crew Masks yang diterbitkan Press Release No: 39 pada 5 Mei 2020, aturan yang dianjurkan antara lain tidak merekomendasikan ‘kursi tengah’ sebagai jarak dalam satu baris atau dengan kata lain boleh diisi penumpang, penggunaan masker, pemeriksaan suhu penumpang, pekerja bandara dan pelancong, aliran udara dari langit-langit ke lantai semakin mengurangi potensi transmisi ke depan atau belakang di kabin dan lainnya.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Kalteng Yulindra Dedy mengatakan, terkait hal ini pihaknya akan segera mengomunikasikan dengan Angkasa Pura II Bandara Tjilik Riwut dan KKP, agar hal seperti demikian tidak terulang kembali.

Dedy menambahkan, sebelumnya Dishub Kalteng juga telah memberikan teguran agar pihak operator penerbangan dapat mematuhi Surat Edaran No 13 Tahun 2020 dalam hal pencegahan Covid-19.

Begitu pula dengan EGM Angkasa Pura II Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya Siswanto. Dia menegaskan, jika didapati benar demikian, maka pihak Dirjen Perhubungan Udara dapat memberikan peringatan atau sanksi bagi maskapai yang melanggar prokes.

“Sesuai dengan ketentuan pemerintah bahwa kapasitas untuk pesawat udara itu maksimal 70 persen. Kalau memang ini benar di lapangan, itu kita cek tentunya sesuai dengan kewenangan yang ada di regulator. Dalam hal ini Dirjen perhubungan Udara tentunya akan memberikan peringatan atau sanksi bila memang ada ketentuan yang dilanggar,” tegasnya saat dikonfirmasi awak media. dsn

 

iklan atas

Pos terkait

iklan atas