Cerita Sopir Ambulans Pengantar Pasien Covid-19 Hingga Ikut Diisolasi

  • Whatsapp
Cerita Sopir Ambulans Pengantar Pasien Covid-19 Hingga Ikut Diisolasi
Rusli, sopir ambulans RSUD dr H Soemarno Sostroatmodjo Kapuas usai dibincangi, Selasa (27/10). YULIANSYAH
iklan atas

KUALA KAPUAS/tabengan.com- Rusli yang berprofesi sebagai sopir ambulans punya cerita tersendiri di tengah pandemi Covid-19 ini. Banyak suka duka telah dilaluinya. Terlebih hanya berstatus tenaga kontrak, jaminan kesehatan dirinya juga rentan terkontaminasi dengan pasien yang dibawa sudah tentu berada di kisaran 50:50.

Selain berada dalam satu ruang dengan kisaran waktu 2 jam lebih karena jarak tempuh yang mencapai 200 kilometer, rasa pengap tubuh yang dirasakan akibat wajib memakai Alat Pelindung Diri (APD) hingga mengalami dehidrasi serta akhirnya juga terindikasi terpapar yang mungkin akibat imun tubuh lemah akibat kelelahan, membuatnya harus melakukan isolasi atau karantina mandiri karena hasil rapid test dinyatakan reaktif.

“Pokoknya, kalau sudah mendapatkan perintah, yang namanya memang sudah tugas kita, walaupun belum memakai APD rasa pengap dan gerah sudah terasa. Apalagi tujuan rujukan sudah jelas yaitu Palangka Raya, setidaknya 5 liter air harus sudah dan harus disiapkan dalam perjalanan. Pokoknya selama kurang lebih 2,5 jam perjalanan kita tidak ada berhenti,” kata sopir ambulans RSUD dr H Soemarno Sostroatmodjo Kapuas itu saat dibincangi, Selasa (27/10).

Rusli yang akrab dipanggil Uci menuturkan, sejak mulai mewabahnya virus Corona, terlebih Kapuas menduduki posisi ketiga terbanyak jumlah pasien Covid-19 setelah Palangka Raya dan Pangkalan Bun, dirinya dan 6 rekan satu profesi yang ada di RSUD Kapuas, secara bergantian dan terkadang bersamaan menjemput maupun membawa pasien rujukan. Bahkan, mengantarkan warga Kapuas yang tidak bisa bertahan karena terpapar Covid-19 ini ke pekuburan.

Sementara, mungkin karena agak kelelahan, dari mereka semua para sopir ambulans yang ada di RSUD dr Soemarno Sostroatmdjo juga akhirnya terpaksa harus melakukan isolasi mandiri. Walaupun dengan rasa syukur berdasarkan hasil swab yang dilakukan tidak positif Covid-19, tapi ia sendiri sempat 2 kali melakukan isolasi mandiri. Sebab, usai mengantarkan pasien yang positif Covid-19, setelah dilakukan rapid test dan hasilnya reaktif, Uci terpaksa beristirahat.

“Yang pasti saya hanya dapat mengambil hikmahnya saja. Saya berharap kepada seluruh lapisan masyarakat jangan mengganggap virus ini penyakit biasa. Apa yang dipesankan pemerintah terkait protokol kesehatan tetap ditaati, demi kesehatan dan keselamatan bersama,” katanya. c-yul

 

 

iklan atas

Pos terkait

iklan atas