Banjir Kotim Telan Korban Jiwa

  • Whatsapp
Banjir Kotim Telan Korban Jiwa
MENGAPUNG- Warga Desa Santilik, Kecamatan Mentaya Hulu, ditemukan tewas mengapung di sebuah parit Blok G13 Afdeling 5 PT IPK DSN, Minggu (25/10). CEK KESEHATAN- Bocah JJ (8) saat dicek kesehatannya, setelah sepanjang malam menunggu ayahnya di tengah kebun sawit dalam kondisi hujan lebat dan banjir. ISTIMEWA
iklan atas

SAMPIT/tabengan.com– Banjir di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menelan korban jiwa. Sami Amekan (30) warga Desa Santilik, Kecamatan Mentaya Hulu, ditemukan tewas mengapung di sebuah parit Blok G13 Afdeling 5 PT IPK DSN, Minggu (25/10) sekitar pukul 07.00 WIB.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, saat itu korban bersama anaknya baru pulang dari rumah keluarganya di Kruing Estate, Sabtu (24/10) malam sekitar pukul 21.30 WIB. Mereka bermaksud pulang ke tempat tinggal di Meafdeling 6.

Di tengah perjalanan kondisi cuaca sedang hujan lebat. Ruas jalan yang mereka lewati dalam keadaan banjir dengan arus sangat deras. Korban kemudian berhenti dan turun dari motornya, lalu melihat kondisi jalan yang banjir tersebut. Sementara anaknya menunggu di sepeda motor. Diduga, korban terpeleset dan terbawa arus banjir.

“Kejadian diduga malam hari, saat itu hujan deras dan jalan tersebut dalam keadaan banjir, sehingga korban terjatuh dan ditemukan meninggal dunia dalam keadaan mengapung,” ujar Kapolres Kotim AKBP Abdoel Harris Jakin melalui Kapolsek Mentaya Hulu Iptu Roni Paslah, Senin (26/10).

Korban ditemukan sekitar 20 meter dari lokasi dia berhenti bersama anaknya. Sepeda motor korban juga ditemukan terperosok ke dalam parit. Sedangkan anak korban yang berusia 8 tahun ditemukan selamat dalam kondisi basah kuyup.

Tidak ditemukan bekas benda tajam atau benda tumpul di bagian tubuh korban. Diduga kuat korban tewas tenggelam, bukan akibat hal lainnya.

“Banjir yang terjadi di jalan itu hanya sebentar. Saat hujan deras melanda daerah tersebut. Diduga korban tewas tenggelam akibat banjir tersebut,” tambah Roni.

Anak Tunggu Ayahnya Semalaman yang Ternyata Sudah Tewas

Pagi itu, Minggu (25/10), Ahmad Watijan (35), seorang petani yang tinggal di Desa Penda Durian, Kecamatan Mentaya Hulu, terkejut saat melintas di Blok G13 Afdeling 5 PT IPK DSN Desa Santilik, Kecamatan Mentaya Hulu, Kotim. Dia melihat seorang bocah laki-laki, JJ (8), dalam keadaan basah kuyup dan kedinginan di tepi jalan.

Bocah tersebut terlihat kebingungan dan kondisinya juga sudah mulai lemah. Di dekat bocah itu ada sebuah sepeda motor yang masuk ke dalam parit. Ahmad Watijan yang penasaran, kemudian menghampiri bocah laki-laki tersebut. 

Dia kemudian menanyakan mengapa JJ berada di tempat itu. Bocah yang masih polos itu kemudian menceritakan bahwa ia sedang menunggu ayahnya hampir sepanjang malam saat hujan lebat turun. 

Ketika itu ruas jalan tersebut banjir dan berarus deras. Ayah JJ kemudian turun untuk mengecek kondisi jalan apakah aman untuk dilintasi sepeda motor. Sejak itulah, ayah JJ, Sami Amekan (30) tidak pernah kembali. 

Di tengah kebun sawit yang gelap dan hujan lebat, bocah JJ menunggu sendirian. Hingga pagi menjelang, ayahnya tidak kunjung kembali, namun ia masih tetap menunggu. Saat itulah Ahmad Watijan melintas dan menemukan JJ sendirian.

JJ akhirnya dibawa warga ke mes karyawan perusahaan perkebunan kelapa sawit setempat. Setelah itu, warga lainnya melakukan pencarian, hingga akhirnya korban ditemukan dalam sebuah parit dengan kondisi sudah tidak bernyawa.

“Korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di parit sekitar kebun sawit dan tidak jauh dari lokasi kejadian,” ujar Kapolres Kotim AKBP Abdoel Harris Jakin melalui Kapolsek Mentaya Hulu Iptu Roni Paslah, Senin (26/10).

Dari penyelidikan kepolisian, tidak ditemukan luka atau pukulan benda tumpul di sekujur tubuh korban. Sementara, korban sendiri sudah dibawa ke Puskesmas setempat, untuk dilakukan penanganan. c-arb 

 

 

 

 

 

iklan atas

Pos terkait

iklan atas