Warga Khawatirkan Proyek Median Jalan Tjilik Riwut

  • Whatsapp
Warga Khawatirkan Proyek Median Jalan Tjilik Riwut
PROYEK – Tampak proyek media jalan di simpang Jalan Tjilik Riwut dan Jalan Garuda Palangka Raya, yang membuat was-was pada pengguna jalan. TABENGAN/ANDRE
iklan atas

PALANGKA RAYA/tabengan.com – Proyek pembangunan median jalan berukuran cukup besar pada Jalan Tjilik Riwut simpang Jalan Garuda Kota Palangka Raya, memunculkan kekhawatiran pengguna jalan. Pasalnya, padatnya pengendara dari lampu lalu lintas arah Bundaran Besar menuju Tangkiling mendadak terhadang  pembuatan median jalan yang memakan dua lajur jalan. Sejumlah pengendara kendaraan mengkhawatirkan perbedaan luas median jalan pada dua wilayah dapat mengakibatkan kecelakaan.

“Jika kecelakaan disebabkan karena peralihan fungsi jalan yang tidak sesuai dengan prinsip dan asas penyelenggaraan jalan atau karena jalan rusak yang tidak diperbaiki, maka sah saja pengguna jalan yang menjadi korban menuntut pada pemerintah,” ujar Praktisi Hukum, Jeplin M Sianturi dalam pendapat hukumnya, Selasa (20/10).

Jeplin mengacu pada ketentuan Undang-Undang maupun turunannya tentang jalan sebagai prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas. Penyelenggaraan dan pemanfaatan jalan harus senantiasa dilandaskan pada asas kemanfaatan, keamanan, dan keselamatan pengguna jalan. Sehingga jangan sampai pemanfaatan fungsi jalan tidak berlandaskan asas tersebut, jika itu terjadi maka tentu tujuan penyelenggaraan dan pemanfaatan jalan tersebut tidak akan tercapai.

Secara hukum, masyarakat yang merasa menjadi korban dapat melakukan gugatan  berupa tuntutan ganti rugi melalui gugatan perbuatan melawan hukum. “Tapi jika kecelakaan terjadi akibat dari kerusakan jalan yang tidak dengan segera dan patut diperbaiki, dapat dituntut secara pidana,” wanti Jeplin.

Sementara H Parianto,  Direktur PT Kahayan Sempurna Srikandi (KSS) sebagai Pelaksana Pekerjaan, menyatakan pihaknya hanya mengerjakan sesuai kontrak. “Tapi yang mendesain bukan kami. Kami hanya mengikuti perencanaan,” tangkis Parianto. Dia menyebut pertanyaan mengenai desain atau perencanaan proyek sebaiknya langsung disampaikan kepada pihak Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (B2PJN) Kalimantan Tengah selaku penyelenggara.

Terpisah, Koordinator Lapangan dari B2PJN Kalteng, Tarung,  membantah adanya penyempitan jalan. Dia mengakui pembatas berupa barrier jalan dengan luas beberapa puluh sentimeter akan berganti dengan median jalan berukuran 4,9 meter. Setelah pengaspalan bahu jalan akan ada penambahan lebar jalan dari 7,25 meter menjadi 8 meter. Proyek tersebut merupakan hasil request yang kemudian dikabulkan dan kemudian terselenggara sesuai perencanaan dengan dana sekitar Rp21 miliar bersumber dari APBN dengan target penyelesaian tanggal 4 Desember 2020.

Sebagian pengguna jalan yang diwawancarai mengaku was-was dengan pembuatan median jalan tersebut. “Berbahaya bagi pengendara yang tidak hapal jalur,” sebut Juniardi yang tiap hari melintasi kawasan tersebut. Demikian pula Aulia yang menyatakan terkadang ada pengendara yang mendadak terkejut melihat median jalan yang lebih besar dari ukuran median jalan sebelumnya, sehingga membanting setir dan  membahayakan pengendara lain di sebelahnya.  dre

 

iklan atas

Pos terkait

iklan atas