Tetap Cari Kerang, Warga Lampuyang Biasa Berdampingan dengan Buaya

  • Whatsapp
Tetap Cari Kerang, Warga Lampuyang Biasa Berdampingan dengan Buaya
HABITAT BUAYA - Lokasi warga Desa Lampuyang mencari kerang ternyata habitat buaya muara. ISTIMEWA
iklan atas

Saat Cek ke Lokasi, BKSDA Temukan 4 Ekor Buaya

SAMPIT/tabengan.com – Setelah terjadi serangan buaya terhadap dua orang kakak beradik warga Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, BKSDA Pos Sampit langsung melakukan peninjauan ke lokasi serangan buaya yang yang ternyata sudah berada sekitar muara Sungai Mentaya, Rabu (29/9).

Yang lebih mengejutkan, ternyata kawasan yang dijadikan warga untuk mencari kerang merupakan habitat buaya muara.  Saat petugas BKSDA Pos Sampit melakukan peninjauan, sedikitnya berpapasan dengan 4 ekor buaya berukuran sekitar 1 meter di 4 lokasi.   “Lokasi serangan ternyata berada di muara Sungai Mentaya, pas di pantai. Lokasi serangan merupakan habitat buaya,” terang Komandan BKSDA Pos Sampit, Selasa (29/9) sore.

Pasca serangan buaya, ternyata tidak membuat warga Desa Lampuyang berhenti mencari kerang. Kepala Desa Lampuyang, Muksin, mengatakan warganya setiap hari masih terus mencari kerang di daerah muara Sungai Lampuyang. “Karena mencari kerang ini adalah mata pencaharian warga Desa Lampuyang. Setiap sore masih turun ke muara Sungai Lampuyang untuk mencari kerang,” terangnya, Selasa (29/9) siang.

Jumlah warga yang mencari kerang mencapai ratusan orang terbagi dalam beberapa kelompok. “Mereka berangkat dari desa yang ada di Sungai Lempuyang, menggunakan kelotok ke daerah muara. Warga ini membentuk kelompok-kelompok saat mencari kerang,” ungkap Muksin.

Warga rupanya sudah terbiasa dengan keberadaan buaya. Meski ada serangan, tetap melanjutkan aktivitas pencarian kerang.  “Dari pencarian kerang ini, setiap hari warga bisa membawa pulang sekitar 30 atau 40 kilogram kerang per orang per hari. Paling sedikit 10 kilogram dan paling banyak bisa sampai 50 kilogram. Kerang tersebut kemudian dijual ke pengepul dengan harga sekitar Rp10 ribu per kilogram,” katanya.

Terkait serangan buaya kepada warga, Kades mengatakan kemungkinan karena habitatnya sudah terganggu dan makanan alaminya juga mulai berkurang. Warga Desa Lampuyang sebetulnya sudah terbiasa hidup berdampingan dengan buaya.   c-arb

 

iklan atas

Pos terkait

iklan atas