Riban: Saya Sepemikiran dengan Ben-Ujang

  • Whatsapp
Riban: Saya Sepemikiran dengan Ben-Ujang
DUKUNG  – Riban Satia dukung Pasangan Cagub/Cawagub Ben-Ujang. Tampak Riban lakukan salam sehat dengan Ben Brahim pada saat syukuran penetapan sebagai Cagub/Cawagub Pilkada 2020 oleh KPU, Palangka Raya.TABENGAN/YULIANUS
iklan atas

PALANGKA RAYA/tabengan.com- Bicara soal politik di Kalteng, khususnya Kota Palangka Raya, tokoh yang satu ini sudah sangat mumpuni, senior, bahkan ahli dalam bidangnya. Wajar saja, selain lama berkecimpung di bidang akademis, pria asli Desa Tangkahen, Kecamatan Banama Tingang, Pulang Pisau itu juga mantan Wali Kota Palangka Raya dua periode.

Dialah H Riban Satia, yang baru-baru ini menyatakan secara pribadi mendukung salah satu pasangan calon Pilgub Kalteng Ben Brahim S Bahat dan Ujang Iskandar. Menjawab tanda tanya dan menghindari persepsi yang tidak-tidak di mata publik, Riban menegaskan punya alasan tersendiri mendukung paslon dengan nomor urut 1 tersebut.

“Saya sepemikiran dengan visi dan misi ataupun buah pemikiran dari Ben-Ujang. Apalagi kami ini pernah memimpin sebuah wilayah, yang walaupun kecil banyak suka dukanya. Cara berpikir dan mengatasi masalahnya, juga mirip-mirip,” ujar Riban ketika ditemui di kediamannya di Jalan G Obos, Palangka Raya, Sabtu (26/8).

Beberapa hal yang dinilai sama, termasuk cara berpikir dan konsep/program pemerintahan oleh kedua pemimpin berpengalaman tersebut. Contohnya, ujar Riban, honor penyuluh perkebunan, soal honor RT, honor damang/mantir, hingga honor guru agama yang non PNS dan lainnya. Bahkan, khatib maupun pendeta juga mendapatkan pendanaan ketika dirinya menjabat sebagai kepala daerah.

Hal tersebut, terang Riban, ternyata juga diterapkan Ben-Ujang selama kepemimpinan di wilayahnya. Intinya, pendekatan kepada masyarakat itu penting sebagai bagian dalam pemerintahan. Selain itu yang juga membuat dirinya mendukung secara pribadi, adalah keduanya berangkat tanpa membeda-bedakan siapapun, dari mana, golongan apa dan lainnya.

Terkait dengan sejumlah persoalan ke depan yang perlu mendapat tindak lanjut, Riban menilai ada sektor-sektor yang memerlukan kehadiran dari pemerintah daerah. Salah satunya soal penambang tanpa izin/liar, yang saat ini kerap menjadi profesi sekaligus penopang nafkah bagi sendi-sendi kehidupan di pelosok daerah.

“Sebenarnya tidak ada bahasa penambang liar, kalau pemerintah itu (mohon maaf) hadir. Kan ada UU yang mengatur Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR), yang kawasannya masuk dalam status Areal Penggunaan Lain (APL), yang warna petanya putih, itu bisa,” tegasnya.

Tetapi kalau kawasannya tidak putih, maka mau tidak mau harus ada status perubahan kawasan. Untuk menindaklanjuti perubahan semacam ini, jelas harus berurusan atau proses ke kementerian atau ke pusat. Namun untuk proses yang satu ini, masyarakat atau koperasi kecil jelas tidak memiliki kemampuan. Harapannya, ada di perusahaan besar di wilayah operasional, untuk memfasilitasi atau memberikan bantuan terkait tindak lanjut perubahan kawasan tersebut ke kementerian.

Dia mencontohkan, di Kabupaten Gunung Mas (Gumas) ada perusahaan besar yang menaungi koperasi-koperasi kecil untuk berurusan ke pusat meminta spot-spot kawasan kepada Kementrian Kehutanan. Harapannya titik-titik tersebut dijadikan WPR, agar masyarakat yang berprofesi menambang bisa menjalankan usahanya secara legal.

Inilah yang menjadi pokok pemikiran pihaknya, dalam menyejahterakan salah satu usaha yang kerap menjadi profesi masyarakat di perdesaan.

“Pemerintah tidak boleh kosong di situ, jangan sampai ada dilema terkait ini. Masyarakat mau makan kok, daripada muncul hal-hal negatif seperti merampok atau menjambret,” tegasnya.

Lalu soal berladang atau bercocok tanam bagi masyarakat, dirinya berpikir konsep yang bagus adalah memperbaharui kontribusi atau kemitraan kepada warga setempat dari sebuah perusahaan. Misalnya pendekatan kepada masyarakat, terkait apa yang diinginkan atau keahlian warga sekitar. Intinya tidak selalu memaksakan kepada pemberian plasma 20 persen.

Dicontohkannya, kalau masyarakat perlu hutan, berilah hutan ataupun hal-hal pendukung agar mampu dilestarikan. Atau bisa juga bagi warga yang bercocok tanam, bahkan berladang, dukung masyarakatnya untuk diberikan lahan serta pendukung lain, agar mampu dilaksanakan sesuai harapan. drn

 

 

iklan atas

Pos terkait

iklan atas