Pandemi Covid-19, Usaha Tanaman Malah Meningkat

  • Whatsapp
Pandemi Covid-19, Usaha Tanaman Malah Meningkat
TANAMAN-Umi dan tanaman florist miliknya di bilangan Jalan Yos Sudarso ujung, Kota Palangka Raya, Senin (14/9). TABENGAN/DANIEL
iklan atas

PALANGKA RAYA/tabengan.com- Salah satu usaha yang tidak begitu terdampak oleh pandemi Covid-19 adalah usaha berbagai jenis tanaman atau florist. Hal itu sebagaimana yang dituturkan oleh Umi Halimah, pelaku usaha tanaman yang sudah 4 tahun menggeluti usaha tersebut.

Menurut Umi, sejak masyarakat lebih banyak melakukan aktifitas di rumah dalam pencegahan dan pemutusan rantai penularan Covid-19, mereka memilih bertanam bunga maupun buah-buahan di pekarangan rumah.

Karena itu menurut Umi, dampak pandemi Covid-19 tidak begitu signifikan terdampak bagi usaha bunga, bahkan malah cenderung naik.  Oleh sebab masyarakat menjadi memiliki hobi yang baru yaitu bercocok tanam.

“Karena corona, imbasnya orang-orang berkebun sendiri,” bebernya saat dibincangi Tabengan, Senin (14/9).

Tambahnya pula, banyak masyarakat mencari bibit tanaman buah dan sayur.  Namun ada juga sebagian yang mencari bibit tanaman hias.

“Untuk bibit buah itu, bibit Durian dan Jambu Kristal.  Untuk tanaman sayur, banyak yang cari bibit Kangkung.  Sedangkan tanaman hias ada Pilo dan Monstera (tanaman berdaun lubang),” ungkap dia.

Pelaku usaha bernama Umi Florist ini tidak memungkiri, jika diperhatikan dari sisi penyewaan tanaman untuk dekorasi pada acara besar dan rapat-rapat dikantor pemerintahan selama pandemi ini berkurang.

Namun demikian, Umi mengaku memiliki kendala terkait usahanya, antara lain, tanaman mudah layu dan mati dan juga serangan dari hama tanaman.

“Tanaman perlu karantina karena perbedaan iklim, sehingga perlu juga penyesuaian. Tapi tidak semua jenis tanaman, apalagi beberapa didatangkan dari Malang yang iklimnya cukup sejuk,” kata Umi.

Selain itu, persoalan permodalan menurut dia untuk membuka usaha tanaman harus modal besar. “Apalagi jika menjual di stand seperti ini banyak jenis tanaman didatangkan dari luar daerah seperti Malang, ongkos kirimnya cukup mahal,” bebernya lagi.

Umi Florist membanderol tanamannya mulai dari harga Rp35.000 hingga puluhan juta rupiah. “Paling mahal tanaman Dolar yang harganya bisa sampai Rp10.000.000, bahkan lebih,” imbuhnya.

Untuk pupuk ujarnya, setiap tanaman menggunakan pupuk yang berbeda-beda. Untuk tanaman yang digunakan adalah kotoran kambing, dan untuk tanaman hias dapat digunakan pupuk kotoran ayam.  Sedangkan tanaman Aglonema digunakan pupuk dari sekam bakar dan organik.

“Untuk merangsang bunga dan buah memakai kimia ( biasanya urea, kebanyakan MPK),” tandasnya.

Masih dilokasi yang sama, Ajang dari Sun Flower Florist mengatakan hal serupa. Pelaku usaha tanaman yang sejak 7 tahun lalu ini menyebutkan, tanaman yang tren adalah jenis daun daunan, seperti aglonema, pilo, monstera.  Tanaman tersebut dibanderol dengan harga mulai Rp50.000-Rp1.000.000.

“Aglonema budidaya perlu waktu lama, dari mulai pembibitan 6 bulan tetapi banyak yang cari. Sedangkan untuk tanaman buah hampir semua jenis tanaman buah dicari saat ini. Karena pandemi untuk menghilangkan kejenuhan banyak yang berkebun,” ujarnya. dsn

iklan atas

Pos terkait

iklan atas