Angkutan Kota, Riwayatmu Kini

  • Whatsapp
Angkutan Kota, Riwayatmu Kini
Angkutan Kota, Riwayatmu Kini
iklan atas

Angkutan kota atau angkot, sebuah kendaraan minibus penumpang yang pernah berjaya di tahun 1990-an kini mulai ditingalkan. Sekarang hanya bisa dilihat sisa-sisa kejayaannya pada masa lalu.

Bagaimana tidak, dengan perubahan yamg begitu cepat dalam beberapa tahun terakhir ini, armada angkot, khususnya di Kota Palangka Raya kini semakin sedikit dan berkurang. Bahkan sebagian besar kondisinya sudah tidak layak.

Riyadi, salah seorang petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Palangka Raya yang bertugas di sekitar Terminal Mihing Manasa, Palangka Raya, kepada Tabengan, Kamis (10/9), mengatakan bahwa eksistensi angkot diakuinya saat ini memang sangat  terbatas.

“Tiap hari jaga di sini memang kondisinya sepi. Kasihan juga yang menjadi supir sewa, karena harus setor Rp50.000 per hari ke pemilik kendaraan,” bebernya.

Hal serupa disampaikan oleh seorang supir angkot yang dikenal dengan Bapa Iki. Bapa Iki menceritakan memang pendapatan berkurang oleh karena munculnya taksi online dan ojek online.

Namun pengaruhnya tidak signifikan, oleh karena penumpang terbesar adalah anak-anak sekolah. Namun diakuinya kondisi saat ini begitu berat, khususnya selama pandemi Virus Corona (Covid-19) dan sehingga anak sekolah diliburkan.

“Hampir 80 persen mati, tidak ada pendapatan selama 9 bulan ini sejak Corona ada,” akunya.

Dengan semakin sepi penumpang, sehingga Bapa Iki tidak dapat melakukan perawat kendaraan. Jika pun ada beberapa sparepart yang perlu diganti, terpaksa menggunakan sparepart seken.

Bapa Iki menambahkan, selama ini belum ada bantuan dari Pemerintah Daerah maupun Dinas Perhubungan Kota. “Kami pengusaha dan supir angkot merasa seperti dianaktirikan,” ujarnya lagi.

Lalu dikatakan dia mengurus pajak juga susah, harus menggunakan CV, nomor 3 angka harus ganti plat. Tapi sampai sekarang belum bisa karena tidak ada penghasilan,” keluhnya.

Ditempat yang sama, Icak, rekan dari Bapa Iki membenarkan hal tersebut. Apalagi sebagai supir sewaan, yang mana harus memberikan setoran sebesar Rp250.000 per minggunya ke pemilik.

“Sulit sekarang, untuk tutupi setoran kadang alih profesi jadi tukang pijat,” ungkap dia. Bahkan menurut Icak, untuk saat sekarang ini, jika masih dapat mengisi BBM saja sangat bersyukur.

“Tarifnya satu orang Rp5.000. Paling banyak sekarang 4 orang. Kalau keliling cari penumpang tidak sebanding uang minyak dengan jumlah penumpangnya,” beber Icak.

Dengan kondisi seperti yang dikeluhkan para sopir angkot tersebut, sehingga banyak angkot yang tidak dapat melakukan peremajaan kendaraannya. dsn

iklan atas

Pos terkait

iklan atas