Empat Kali Jadi Terdakwa Penipuan

  • Whatsapp
Empat Kali Jadi Terdakwa Penipuan
iklan atas

PALANGKA RAYA/tabengan.com- Istiani kembali duduk sebagai terdakwa perkara penipuan dalam sidang Pengadilan Negeri Palangka Raya, Senin (31/8/2020). Sebelum perkara kali ini, Istiani itu tengah menjalani tiga vonis berbeda atas perkara penipuan sebelumnya. Dengan modus kerjasama dan bagi hasil penjualan tabung LPG, Istiani berhasil meraup ratusan juta rupiah dari tiga orang korban.

“Saya tidak memaksa mereka ikut. Pembagian keuntungan memang tidak lancar karena ada kendala dalam usaha,” kelit Istiani saat memberi keterangan.

Perkara berawal pada bulan Pebruari 2017 ketika Muhammad Sukron Auladi bertemu Istiani di kostnya Jalan Mendawai I Kota Palangka Raya. Istiani menawarkan kepada Sukron untuk menanamkan modal dalam usaha jual beli tabung gas LPG. Istiani merayu Sukron dengan pembagian keuntungan tiap bulannya. Selain itu Istiani juga menawarkan kerjasama membuka pangkalan LPG baru di Kabupaten Gunung Mas.

Merasa tertarik, Sukron secara bertahap dengan jumlah bervariasi menyerahkan uang dengan total Rp 94 juta. Istiani sebanyak empat kali menyerahkan uang yang disebut pembagian keuntungan hingga mencapai total Rp40 juta. Tapi pada bulan kelima, Istiani sulit.ditemui. Saat menemukan Istiani di rumahnya Jalan Harum Manis IV Kota Palangka Raya, Sukron menagih kembali uangnya.

Merasa terdesak, Istiani menyerahkan cek Bank BRI senilai Rp8,46 juta. Namun saat akan dicairkan oleh Sukron, cek tersebut tenyata kosong atau tidak ada dananya sehingga ditolak oleh pihak Bank BRI Cabang Palangka Raya. Sukron kembali memprotes dan menagih k

embali, tapi Istiani hanya memberikan sejumlah dalih dan janji-janji bahwa uang akan segera dibayarkan. Akibat kejadian ini, Sukron mengalami kerugian Rp54 juta.

Selain Sukron, korban lain adalah Risnawati yang telah menyerahkan Rp227 juta dan hanya mendapat keuntungan Rp24 juta. Saat pembagian keuntungan tersendat, Istiani memberikan cek Bank BRI senilai Rp18.46 juta yang ternyata kosong dan ditolak saat dicek ke bank. Korban ketiga adalah Ahmad Hidayatullah yang telah menanamkan modal dengan total sebesar Rp200 juta.

Selama tujuh bulan, Istiani menyerahkan pembagian keuntungan dengan total sebesar Rp60 juta namun kemudian terhenti. Kepada Ahmad, Istiani menyerahkan cek Bank BRI senilai Rp18,46 juta yang ternyata kosong. Istiani berkilah macetnya pembagian keuntungan karena bisnis kurang lancar sehingga dia tidak sempat mengumpulkan uang untuk membayar. Dia sempat membantah melakukan metode gali lubang tutup lubang atau membayar keuntungan dengan menggunakan uang dari korban lainnya. dre

iklan atas

Pos terkait

iklan atas