Bu Niang, Pengrajin Rotan Bertahan di Tengah Modernisasi

  • Whatsapp
Bu Niang, Pengrajin Rotan Bertahan di Tengah Modernisasi
PALANGKA RAYA/tabengan.com-Usaha kerajinan rotan bagi masyarakat asli Kalimantan Tengah adalah usaha yang dilakukan turun-temurun sebagai salah satu sarana pelestarian seni dan budaya.
iklan atas

PALANGKA RAYA/tabengan.com-Usaha kerajinan rotan bagi masyarakat asli Kalimantan Tengah adalah usaha yang dilakukan turun-temurun sebagai salah satu sarana pelestarian seni dan budaya.

Salah satunya seperti apa yang dilakukan Niang. Dirinya mengaku menjadi pengrajin rotan sejak kecil, karena merupakan mata pencaharian utama keluarga. Kini usaha tersebut dikenal dengan nama Kelompok Kerajinan Jawet Niang yang beralamat di Jalan RTA Milono Km 8, Palangka Raya.

“Kala itu bersama ibu, adik-adik, nenek dan tante serta merupakan usaha yang turun temurun namun waktu itu masih sebatas rotan yang masih original tanpa tersentuh bahan lain,” bebernya kepada Tabengan, Rabu (26/8).

Menurut Niang, saat ini kerajinan rotan yang digelutinya telah dikombinasi dengan bahan lain, seperti kulit. Baik kulit asli maupun kulit sintetis dan modelnya pun mampu bersaing mengikuti trend model saat ini, dan bisa menarik banyak konsumen terutama kaum hawa.

Meski zaman terus berubah, tetapi karena keuletannya dan rasa kebanggaan Niang sebagai penerus budaya si zaman modern ini, sehingga membuatnya bisa bertahan menjadi pengerajin rotan hingga sekarang.

“Saya mampu bertahan karena saya memiliki niat dalam hati agar kerajinan anyaman rotan yang merupakan salah satu kearifan lokal suka Dayak harus dikembangkan dan terus diperkenalkan ke seantero negeri ini. Intinya budaya jawet ini jangan sampai punah,” imbuhnya.

Niang juga mengaku yang mendorong dirinya menjadi pengrajin, awalnya untuk membantu orang tua menambah biaya hidup keluarga. Maklum saja hidup di desa yang mengandalkan hasil dari alam yang bisa dimanfaatkan untuk peningkatan ekonomi keluarga dengan mengolah menjadi beraneka macam produk.

“Seperti tas, topi, tikar, lawung, sumping, figura, tutup galon, tempat tisu, taplak meja dan aneka produk lain yang berbahan rotan,” kata dia.

Niang merasa sangat yakin bahwa prospek ke depan kerajinan rotan sangat menjanjikan. Walau pun, tanpa dipungkirinya sebagian orang tidak berminat menggunakan produk dari rotan.

“Tapi saya yakin suatu saat pasti lebih banyak lagi peminatnya. Terbukti saat ini yang datang ke gallery saya ada saja yang datang dan belanja tiap harinya. Juga banyaknya permintaan pesanan dari dalam dan luar daerah,” ujarnya lagi.

Namun Niang mengaku pada awal pandemi sampai adanya PSPB lalu, hampir tidak ada yang datang ke gallery. Niang sangat bersyukur karena berkat adanya media online semuanya teratasi meski tidak seberapa banyak yang terjual dibandingkan sebelum pandemi.

“Harus bisa baca peluang pasar apalagi saat pandemi ini, solusinya masker rotan,” ujarnya. Sementara untuk beberapa bulan ini oleh karena dampak pandemi belum dapat memastikan omset yang didapatnya.

Di akhir wawancara, Niang sebagai salah satu pengrajin anyaman rotan mengharapkan  kepada pemerintah terutama ASN/ PNS yang sering kali melakukan perjalanan dinas atau sekadar ke kantor, agar menggunakan tas-tas rotan atau barang kerajinan lainnya. Sehingga dimana pun dan kapan pun berada budaya jawet/anyaman ini tetap menjadi ciri khas dan idola banyak orang.

“Karena kalau bukan kita siapa lagi menggunakannya, kalau tidak sekarang kapan lagi,”pesannya. Harga kerajinan di galler Niang dibanderol mulai dari Rp20.000 hingga Rp2.500.000, tergantung jenis produknya. dsn

iklan atas

Pos terkait

iklan atas