Pandemi Ancam Krisis Ekonomi

  • Whatsapp
Pandemi Ancam Krisis Ekonomi
Fitria Husnatarina dan Otto Fitriandy
iklan atas

PALANGKA RAYA/tabengan.com- Pandemi Covid-19 yang belum pasti kapan berakhirnya, berdampak bagi pergerakan ekonomi global, termasuk ekonomi lokal Kalimantan Tengah. Ancaman krisis ekonomi pun ada di depan mata. Anehnya, Menteri Keuangan hingga saat ini tetap optimis dengan pergerakan ekonomi nasional.

Menanggapi hal tersebut, pengamat ekonomi dari Universitas Palangka Raya (UPR) Dr Fitria Husnatarina SE MSi Ak CA mengatakan, pengamatan terhadap perekonomian lokal secara spesifik untuk Kalteng memang layaknya secara global Indonesia, mengalami perlambatan.

Perlambatan ini, kata dia, dapat dilihat dari aktivitas ekonomi, bisnis dan perbankan, aktivitas jual beli, investasi dan bisnis. Aktivitas bisnis pada tataran skala yang lebih besar nyatanya belum bisa bergerak secara optimal.

“Karena trade off antara kepatuhan terhadap protokol demi menjaga kesehatan dan kondisi percepatan pergerakan ekonomi belum bisa ada pada rel yang linier,” papar Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPR itu kepada Tabengan, Rabu (26/8) malam.

Menurutnya, sepanjang pemerintah tidak clear dengan bagaimana membangun percepatan ekonomi secara besar-besaran, dampak pandemi masih akan terasa di sektor ekonomi.

“Logikanya, jika sempat pause kegiatan perekonomian selama 3 bulan, maka kita harus bisa mencari strategi percepatan yang bisa membawa kemandekan selama 3 bulan itu secepat-cepatnya,” katanya.

Tapi memang, lanjut Fitria, secara lokal perekonomian Kalteng masih dalam taraf yang lebih stabil dibandingkan daerah di Jawa, seperti Jakarta atau Surabaya, dan daerah besar di Indonesia lainnya yang mengandalkan pada aktivitas bisnis skala besar.

Jika Menkeu Sri Mulyani masih optimis, berarti secara strategi nasional masih ada peluang-peluang percepatan ekonomi yang bisa dikerjakan. Sentimen positif masih sangat amat diperlukan untuk membangun trust bahwa masyarakat jangan sampai dipanikkan dengan kondisi global yang semua negara sedang hadapi.

“Jika pemimpin saja tidak optimis, maka ketidakstabilan baik faktor makro maupun mikro perekonomian Indonesia akan sangat rentan mengalami turbulensi. Jadi positif statemen menurut saya memang sangat diperlukan, karena proses recovery bukan hanya tugas negara, tapi tugas kita bersama selaku warga Negara,” tandasnya.

Fitri menjelaskan, sektor atau elemen yang sensitif terhadap ancaman krisis bagi Kalteng adalah sektor riil, karena pada kondisi sekarang di sektor ini belum bisa bergerak dengan cukup leluasa.

“Walaupun sudah ada keleluasaan, tapi proses step by step pemulihan juga butuh waktu,” imbuhnya.

Guncangan pada sektor riil pastinya berimbas pada korporasi dan UMKM. Aktivitas mereka tidak bisa serta merta bergerak ke posisi optimal. Misalnya UMKM yang sebelumnya bergerak di bidang produksi makanan oleh-oleh amplang, yang pasarnya biasanya wisatawan atau tamu pemerintah pusat maupun daerah lainnya yang datang ke Kalteng. Walaupun mereka bisa produksi, apakah pasar ada? Ada, tapi tidak sebaik ketika kondisi sebelum pandemi.

“Masih banyak contoh kegiatan bisnis lainnya yang betul sudah bisa beroperasi, tapi demand itu masih belum tumbuh sebaik yang diharapkan,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalteng Otto Fitriandy mengatakan, indikator jasa keuangan di Kalteng seluruhnya menunjukkan perkembangan positif.

“Aset kredit dan DPK Perbankan di Kalteng posisi Juni 2020 seluruhnya tumbuh positif year on year dibanding posisi 2019,” ujarnya.

Otto menyebut, setidaknya ada 5 penyaluran kredit di wilayah Kalteng hingga Juni 2020, antara lain Rp9.98 triliun untuk pemilikan peralatan rumah tangga termasuk pinjaman multi guna, selanjutnya Rp6.07 triliun untuk pertanian, perburuan dan kehutanan. Kemudian Rp5.39 triliun untuk perdagangan besar dan eceran, Rp3.82 triliun pemilikan rumah tinggal dan Rp2.73 triliun untuk industri pengolahan. dsn

iklan atas

Pos terkait

iklan atas