OJK: Industri Keuangan Harus Terlibat dalam PEN

  • Whatsapp
OJK: Industri Keuangan Harus Terlibat dalam PEN
TABENGAN/DANIEL RAKOR-Rakor implementasi PEN, di Aula Jayang Tingang, Komplek Kantor Gubernur Kalteng, Jumat (14/8).
iklan atas

PALANGKA RAYA/tabengan.com-Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Tengah Otto Fitriandy mendorong seluruh industri Keuangan untuk terlibat dalam Pertumbuhan Ekonomi Nasional (PEN).

Hal ini disampaikan oleh Otto dalam paparannya pada Rapat Koordinasi Implementasi Pemulihan Ekonomi Nasional di Aula Jayang Tingang, Komplek Kantor Gubernur Kalteng, Jumat (14/8).

“Dalam memasuki masa transisi adaptasi kebiasaan yang baru, industri keuangan dapat terlibat dalam Pemulihan Ekonomi Nasional, sehingga para pelaku usaha, UMKM dapat bangkit kembali,” katanya.

Dijelaskan kemudian bahwa peran kebijakan OJK terkait restrukturisasi kredit terhadap profit risiko Lembaga Jasa Keuangan sangat besar menjaga tingkat NPL (Non Performing Loan) dan permodalan Bank sehingga stabilitas sektor jasa keuangan dapat terjaga dengam baik.

“Rasio solvabilitas sektor jasa keuangan juga masih cukup solid. CAR perbankan, Gearing Ratio PP dan RBC asuransi terjaga di atas threshold (ambang batas),” ujarnya.

Terkait dengan arah kebijakan OJK ke depan dalam PEN, Otto menjelaskan stimulus pemerintah seperti subsidi bunga, penempatan dana pemerintah di perbankan, serta penjaminan kredit UMKM dan korporasi merupakan amunisi untuk mendorong sektor riil tumbuh kembali.

“OJK berharap yang direstrukturisasi segera bangkit mendorong pertumbuhan kredit. OJK bersama perbankan dan pemangku kepentingan lainnya memantau pertumbuhan kredit dan mengatasi kendala di lapangan sesegera mungkin,” imbuhnya.

Lebih lanjut disebutkan Otto, walaupun terdapat kenaikan pada tingkat kredit macet (NPL), namun dengan adanya kebijakan dimaksud laju NPL dapat ditekan sehingga kondisi Sektor Jasa Keuangan (SJK) masih terjaga.

Kemudian berbagai kebijakan stimulus diterbitkan untuk mendorong sektor jasa keuangan dalam kondisi baik dan terkendali. Indikator prudensial seperti permodalan maupun liquiditas yang memadai serta profit risiko yang terjaga.

Lalu ujarnya, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) ditopang pertumbuhan DPK Buku 4 yang tumbuh doble digit. Sedangkan penempatan dana pemerintah ke Bank Himbara dan BPD yang disalurkan ke UMKM serta skema penjaminan kredit UMKM menopang pertumbuhan kredit bulan Juni 2020.

Sementara itu ditambahkan Otto, sentimen positif di pasar modal didorong investor domestik penghimpunan dana di pasar modal dan NAB Reksa Dana meningkat diiringi penambahan emiten baru. dsn

iklan atas

Pos terkait

iklan atas