Obat Covid-19, Mantan Dosen Minta Daun Taya Diteliti

  • Whatsapp
Obat Covid-19, Mantan Dosen Minta Daun Taya Diteliti
iklan atas

PALANGKA RAYA/tabengan.com – Edom Tirok (67), warga Jalan Bangas Permai Induk No 9, RT 002/RW 010, Palangka Raya, membuat pengakuan mengejutkan. Dalam rilis yang diterima Tabengan, Senin (13/7) sore, Edom Tirok mengaku pernah merasakan gelaja terpapar virus Corona atau Covid-19. Namun, ia sembuh berkat daun taya, salah satu tanaman yang ada di Kalimantan Tengah (Kalteng).

Pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dosen Teknik Sipil salah satu perguruan tinggi swasta di Kalteng ini mengaku, peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (21/5) tengah malam sekitar pukul 23.30 WIB.

“Saya terbangun dari tidur karena sakit tenggorokan dan sesak napas. Saya coba minum air putih hangat, rasanya makin tambah sakit ke dalam tenggorokan dan tambah sesak napas. Suara saya sudah parau, saya bangunkan istri, saya katakan tenggorokan saya sangat sakit dan sesak napas, saya minta istri pimpin doa pertolongan dari Tuhan Yesus,” tulis Edom.

Selesai berdoa, Edom mengingat daun taya yang ia tanam 22 tahun lampau di samping rumah.

“Saya ambil 10 lembar daun pucuk taya yang lembut, dicuci dan disiram air panas. Sementara saya menyiapkan daun taya, tenggorokan tambah sakit dan sulit menelan air. Saya kunyah daun taya satu per satu sambil menelan paksa air liur campur pahit daun taya,” ceritanya.

Sebanyak 10 lembar daun taya habis dikunyah dan ditelan, tidak peduli pahitnya luar biasa. Dalam mulut dan tenggorokan rasa pedih campur pahit. Kurang lebih selama 10 menit, setelah itu berangsur-angsur hilang dan sehat kembali seperti biasa. Mereka pun melakukan doa syukur.

Edom yakin, apa yang ia rasakan saat itu adalah virus Corona, sebab sebelumnya ia sehat-sehat saja tanpa sakit apapun. Edom lalu meminta istrinya agar mulai esok hari selama 1 minggu, membuat masakan juhu (sayur) taya. Masakan juhu taya, dengan bahan daun taya 5-10 lembar dicampur dengan ikan dan bumbu, dengan rasa pahit tapi enak dimakan. Pada umumnya masakan ini kegemaran orang-orang Dayak.

Pengalaman kedua, pada Senin, 29 Juni 2020 tengah malam pukul 23.00 WIB, Edom mengaku kembali terbangun dari tidur. Kejadiannya seperti pengalaman pertama.

“Saya dan istri berdoa agar Tuhan memberi pertolongan. Selesai berdoa saya ambil daun taya 10 lembar, dikunyah seperti dilakukan pada pengalaman pertama. Saya merasakan tenggorokan mulai sehat kembali. Pada saat saya berdoa syukur terlepas dari maut, Tuhan mengingatkan agar saya menolong orang-orang yang terpapar pandemi ini,” katanya.

Edom meyakini, Tuhan mengasihi umat manusia di muka bumi ini, membuka jalan supaya ditemukan vaksin dan obat Covid-19 ini. Dan obat yang ditunjukkan Tuhan kepada Edom adalah daun taya. Sejak itu, setiap bepergian ia selalu membawa daun taya dalam plastik tersimpan di saku.

Terkait tanaman taya, Edom mengisahkan cerita orang tua, saat zaman penjajahan Belanda terjadi wabah penyakit malaria. Orang Dayak menjadikan daun taya sebagai obat karena pil kina (kinine) saat itu sulit didapat. Tanaman taya ini adalah tumbuhan hutan liar di Kalimantan, bisa tumbuh di mana-mana, di rawa, pinggir sungai, dataran rendah dan pegunungan.

Tinggi pohon taya bisa mencapai 10 meter lebih. Kalau tiba musim berbunga, bentuk bunganya mirip seperti bentuk virus Corona yang selalu disiarkan di layar televisi. Menanam pohon taya ini tidak sulit, dipotong-potong dahannya yang kecil ditanam begitu saja bisa tumbuh dan subur saat musim hujan.

“Pesan kepada pembaca, kalau mengalami serangan virus Corona jangan panik, berdoa menurut agama yang dianut, ambil daun taya dan dikunyah, patuhi protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah. Kepada para lansia berhati-hati saat tidur ngorok mudah diserang virus Corona. Kepada para pakar kesehatan di Palangka Raya maupun di Jakarta, mohon daun taya ini dijadikan bahan penelitian dan pengujian,” pesan mantan dosen tersebut. marius ernestus loe

iklan atas

Pos terkait

iklan atas