Banyak Pedagang Tolak Rapid Test

  • Whatsapp
Banyak Pedagang Tolak Rapid Test
Sejumlah petugas melaksanakan rapid test pada para pedagang di sekitaran Pasar PU, Palangka Raya, Jumat (3/7). TABENGAN/YULIANUS
iklan atas

PALANGKA RAYA/tabengan.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palangka Raya yang tergabung dalam Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota melakukan rapid test massal di sejumlah kawasan yang berpotensi besar menjadi wadah penularan Covid-19.

Diketahui, pada Rabu (1/7) lalu, dilakukan rapid test massal bagi para pelaku usaha di Pasar Kameloh. Dilanjutkan Jumat (3/7), rapid test di kawasan Pasar PU Jalan S Parman.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2) Dinkes Kota Palangka Raya Irma Afsesta mengatakan, rapid test massal ini berdasarkan instruksi Wali Kota Palangka Raya yang tertuang dalam surat bernomor 368/234/BPBD/Covid-19/VI/2020 tentang percepatan penanganan Covid-19 di area zona merah dan surat nomor 368/235/BPBD/Covid-19/VI/2020 tentang pelaksanaan wajib protokol kesehatan di wilayah Kota Palangka Raya. Dalam satu titik lokasi tes, mampu menampung 100-200 sampel reagen.

“Baru 2 lokasi kita lakukan rapid test massal hingga Jumat ini. Kemarin di Pasar Kameloh dan hari ini Pasar PU. Kapan waktu pelaksanaan di 8 titik lainnya, masih acak tergantung situasi tenaga kesehatan kita. Kita tak mungkin melakukannya tiap hari, karena kita juga harus jaga fisik kita. Berapa jumlah sampel yang diambil dalam satu titik, tergantung luasan pasar,” beber Irma, Jumat (3/7).

Untuk pelaksanaan rapid test massal di Pasar Kameloh, diakui pihaknya mengalami kendala. Karena sebagian pemilik usaha mencoba melarikan diri atau menolak untuk diperiksa. Sedangkan hasilnya, dari 125 sampel yang diambil, terdapat 6 reaktif.

Sedangkan untuk Pasar PU, diambil kurang lebih 200 sampel, hasil reaktif atau tidaknya akan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dalam waktu dekat.

“Untuk Pasar PU, alhamdulillah seluruh pedagang, juru parkir hingga petugas kebersihan kooperatif untuk diperiksa. Tak ada penolakan. Sedangkan kendala seperti di Pasar Kameloh, menurut saya karena mereka pikir jika reaktif akan dikunci selama 14 hari. Tak boleh berdagang dan dijauhi masyarakat. Tidak seperti itu. Jika reaktif, yang bersangkutan kita imbau isolasi mandiri hingga melakukan swab test. Sekarang kita sudah miliki alat PCR, jadi tak perlu antre lama lagi, dalam 1 atau 2 hari keluar hasilnya,” jelasnya.

Dia berharap agar masyarakat bisa lebih kooperatif, proaktif dan tak perlu merasa takut serta khawatir berlebihan. Semua pihak diakuinya mengetahui jika biaya untuk melakukan rapid test secara mandiri tidaklah murah. Maka dari itu, masyarakat patut bersyukur karena Wali Kota telah menggratiskan biaya rapid test massal ini yang diakomodir oleh Tim Gugus Tugas untuk meringankan beban masyarakat.

“Dalam instruksi Pak Wali Kota, pelaku usaha yang tak ikuti rapid test tak boleh buka toko. Karena kita berupaya menjaga agar tak ada penularan antara pembeli dan penjual. Jadi kita harap semua pelaku usaha sadar dan bantu kita memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Tolong jangan lewatkan kesempatan rapid test gratis ini,” harapnya.

Bagi mereka yang sempat melarikan diri ataupun tidak mengikut rapid test massal ini, menurut Irma, masyarakat masih bisa memantau perkembangan dan mengikutinya pada fasilitas rapid test lainnya, sebab pelaksanaan rapid massal ini tidak dilakukan setiap hari.

“Yang jelas saat ini kita lakukan rapid test massal untuk skrining awal agar melihat seberapa luas penularan di masyarakat. Di sini kita bisa pelajari bagaimana pola penyebaran dan kebijakan yang kita ambil selanjutnya. Kita harap dalan waktu 14 hari ini bisa menjaring sebanyak mungkin yang reaktif dan memeriksakannya dengan PCR. Bila positif segera kita obati, sehingga penularan di masyarakat bisa terhenti,” pungkasnya. rgb

iklan atas

Pos terkait

iklan atas