Atasi Biaya Mahal, Pengusaha Urunan Talangi Rapid Test Sopir

  • Whatsapp
Atasi Biaya Mahal, Pengusaha Urunan Talangi Rapid Test Sopir

PALANGKA RAYA/tabengan.com – Elyas selaku pelaku usaha distribusi bahan pokok dan kesehatan di Kota Palangka Raya mengakui surat bebas Covid-19 berupa wajib rapid test bagi sopir antarkota berkontribusi pada kenaikan harga bahan pokok bagi masyarakat. Menurut Elyas, biaya rapid test yang berkisar Rp500.000 dan hanya berlaku selama 7 hari cukup membebani pelaku usaha atau distributor barang.

“Kami (pengusaha) mencari solusi dan secara bersama urunan membayar biaya rapid test driver (sopir)” beber Elyas kepada wartawan, Sabtu (30/5/2020).

Pebisnis yang juga politisi DPW Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Kalimantan Tengah itu menyadari ada dua sisi yakni pelaku usaha yang berusaha menjalankan bisnisnya dan pemerintah daerah yang berusaha melayani masyarakat.

“Kita coba cari solusi jalan tengah. Secara internal, kami dari pihak pabrik dan distributor bersama-sama membiayai rapid test driver kami. Untuk pelanggan ditambahkan ongkos kirim tambahan yang tidak memberatkan atau biayanya dibawah tarif jasa pengantaran resmi,” tutur Elyas.

Dengan terus berlangsungnya dunia usaha, sumbangsih pelaku usaha berupa pajak atau retribusi usaha kepada pemerintah daerah dapat berjalan lancar.

Dengan kendala kenaikan biaya operasional barang dari luar daerah, Elyas beranggapan pengusaha daerah juga dapat mengambil momentum untuk melakukan swasembada bahan pokok terutama peternakan dan perkebunan lokal. Elyas mengaku mulai mempraktikkan usaha perkebunan untuk dapat menjual sayur mayur lebih murah dari harga pasar. Pemerintah daerah melalui para pemegang kebijakan semisal Dinas Pertanian juga diharapkan dapat lebih optimal dan berambisi besar mengatasi krisis melalui peran serta mereka membina pelaku usaha pertanian.

“Kita membawa semangat gotong royong. Semua harus terlibat,” yakin Elyas.

Dia berharap semangat gotong royong para pengusaha dan pemerintah dapat menghindari penutupan tempat usaha, pemutusan hubungan kerja, dan kenaikan harga yang akhirnya berdampak pada masyarakat dan pendapatan daerah.

“Covid-19 ini masalah kita bersama. Kita dalam perahu berbeda tapi dalam badai yang sama,” pungkas Elyas. dre

Pos terkait