Jeannette Siagian: Awalnya Was-was, Kini Terbiasa

  • Whatsapp
Jeannette Siagian: Awalnya Was-was, Kini Terbiasa
dr Jeannette Siagian SpP MKes

PALANGKA RAYA/tabengan.com – Dokter yang merawat pasien positif virus Corona (Covid 19) awalnya merasa was-was. Namun, seiring berjalannya waktu, kini sudah terbiasa. Kendati demikian, tetap waspada dan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap karena risiko penularan tetap ada.

Salah satunya, dokter Jeannette Siagian SpP MKes. Dokter sepesialis paru Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Doris Sylvanus Kalteng ini menyampaikan, begitu ada kabar pasien pertama kali terkonfirmasi positif di Kalteng, harus siap untuk melakukan perawatan terhadap pasien tersebut, meskipun ada rasa khawatir.

“Awalnya memang ada was-was, tapi ini sumpah profesi yang harus kami jalani. Kami juga sebelumnya sudah dapat imbauan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Paru bahwa kami wajib waspada, sehingga kami dokter paru diwajibkan menggunakan pelindung kepala, masker N95 saat periksa pasien,” kata Jeannette, Senin (25/5).

Menurut Jeannette, ada prosedur tetap yang selama ini digunakan, pasiennya datang ke rumah sakit, setelah itu melakukan pemeriksaan rutin seperti fisik, laboratorium dan rontgen. Bagi yang isolasi mandiri, diedukasi untuk Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), gunakan masker setiap aktivitas apapun, bahkan di rumah. Masker kain setiap 4 jam harus diganti.

Setelah itu, sering cuci tangan setiap kali memegang permukaan barang apapun untuk mencegah penularan lewat permukaan benda. Kalau ada aktivitas di luar karena isolasi mandiri, alas kaki sudah harus dilepas di pekarangan rumah, sehingga virus yang ada tidak terbawa masuk dalam rumah. Makan makanan yang bergizi, melakukan akvititas yang mendukung kesehatan, misalnya olahraga ringan di pekarangan rumah atau dalam rumahnya dan tidur yang cukup.

“Kalaupun diberikan vitamin, kami akan berikan vitamin C dosis tinggi yang memadai, terus kami sarankan konsumsi buah-buahan yang mendukung kesehatannya. Apabila memiliki penyakit penyerta, maka harus diobati penyakit penyertanya. Tapi kalau dia di rumah sakit dia harus ikut prosedur rumah sakit,” imbuh Jeannette.

Selama ini mereka bergantian dalam bertugas merawat pasien positif, sehingga sekarang sudah jauh lebih enak, tidak terlalu capek. Selain itu, memiliki waktu yang cukup untuk istirahat maupun bertemu keluarga. Memiliki risiko penularan yang cukup tinggi, para dokter juga wajib memeriksa kesehatan rutin. Ia mengaku sering mengikuti rapid test dan hasilnya negatif. Tiga kali melakukan pemeriksaan swab dan hasilnya negatif semua.

Waktu Sembuh Beda
Pasien positif Covid-19 dalam menjalani perawatan memerlukan waktu yang berbeda-beda untuk sembuh. Ada yang sembuhnya cepat, namun ada juga yang lama, tergantung dari kekebalan tubuh seseorang.

Jeannette menyampaikan, ada pasien yang sembuh cepat ada juga yang lama, tergantung paparan dari setiap orang, karena selalu berbeda-beda.

“Misalnya klaster Gowa, waktu di Makassar orang dari berbagai negara sudah berkumpul di sana, sehingga klaster yang ada di situ, walaupun di Gowa tapi tercampur tipe virusnya, sehingga rata-rata klaster Gowa itu lama sembuhnya ada yang 20 hari, bahkan 30 hari,” kata Jeannette.

Dijelaskannya juga, Covid-19 jenis virusnya SARS 2, merupakan bagian dari Corona Virus. Di dunia ini ada tiga corona virus, SARS 1, Mers Cov dan SARS 2 yang saat ini sedang mewabah.

Sementara itu, SARS 2 juga ada tiga tipe terbaru, Tipe A, B dan C. Kalau yang lama sembuh biasanya SARS 2 tipe C dan saat ini sedang wabah di Indonesia. Virus jenis ini lama sembuh karena bermutasi ke genetik orang tersebut dan juga tergantung penyakit penyerta yang memperberat kondisi pasien. Kalau tipe A penderitanya bisa langsung meninggal seperti di Wuhan, China. Tipe B mewabah di sekitar Eropa dan Amerika. yml

Pos terkait