Mantan Bupati Katingan Ditantang Bersumpah oleh Terdakwa

  • Whatsapp
Mantan Bupati Katingan Ditantang Bersumpah oleh Terdakwa
iklan atas

PALANGKA RAYA/tabengan.com – Mantan Bupati Katingan Ahmad Yantenglie dan mantan Kuasa Bendaharawan Umum Daerah (BUD) Teklie memberikan kesaksian terhadap mantan Kepala Kantor Kas Bank Tabungan Negara (BTN) Pondok Pinang, Teguh Handoko yang menjadi terdakwa Pengadilan Tipikor Palangka Raya, Selasa (19/5/2020).

Teguh sempat menantang Yantenglie bersumpah bila membantah menerima uang darinya.

“Demi Allah saya bersumpah tidak terima uang Rp1,5 miliar,” balas Yantenglie dengan nada tinggi.

Yantenglie yang sudah berstatus terpidana itu juga membantah pernah menerima uang dari Direktur PT Zanasfar Mandiri, Haryanto Chandra yang kini menjadi buronan. Haryanto Chandra disebut Teguh sebagai pihak yang diberi kuasa dari Yantenglie untuk memindahkan uang kas daerah.

“Ini konspirasi antara teknis dengan pihak bank,” tuding Yantenglie. Dia menyebut tidak ikut campur dalam masalah teknis pemindahan keuangan dan hanya berkutat dalam urusan pengambilan kebijakan.

Pemindahan kas daerah senilai Rp100 miliar dari Bank Kalteng ke BTN dia setujui lantaran dapat berkontribusi bagi daerah karena Teguh menjanjikan hibah dua mobil ambulan dan bunga deposito yang cukup tinggi.

“Saya baru ikut campur saat tahu uang itu hilang,” kelit Yantenglie.

Terpisah, Teklie juga membantah melihat Teguh memberikan uang Rp1,5 miliar kepada Yantenglie. Dia menyatakan perjanjian dan persetujuan pemindahan kas daerah dipaksakan oleh Yantenglie.

“Saya pernah mengajukan keberatan karena takut nanti jadi masalah,” tutur Teklie.

Pembicaraan mengenai pemindahan keuangan daerah itu juga diklaim hasil persetujuan antara Yantenglie dan Teguh. Atas keterangan Teklie, Teguh sempat mentertawakannya.

“Keterangan pak Teklie seluruhnya kebohongan belaka,” tanggap Teguh.

Dalam dakwaan, Yantenglie bersama dengan Teklie serta Sura Peranginangin selaku BUD, Teguh Handoko, dan Heryanto Chandra, telah bersama-sama merugikan negara sebesar Rp100 miliar. Dana tersebut dipindahkan dari rekening kas daerah di Bank Pembangunan Kalteng ke rekening BTN Pondok Pinang Jakarta Selatan.

Yantenglie disebut mendapat keuntungan Rp1,5 miliar, Teklie mendapat Rp317,03 juta, dan Heryanto Chandra yang kini buron mendapat Rp57,65 miliar. Yantenglie juga menggunakan dana kas daerah sebesar Rp5 miliar untuk membayar jasa pengacara, Eddy J Wibowo untuk melacak Heryanto Chandra dan menagih uang yang dipindahkan. Heryanto akhirnya membayar puluhan miliar rupiah lalu menghilang kembali saat masih ada Rp35 miliar yang tersisa.

Untuk Yantenglie, Mahkamah Agung (MA) menguatkan putusan banding Pengadilan Tinggi (PT) Palangka Raya yang menjatuhkan pidana 10 tahun penjara dan denda Rp500 juta subsidair 6 bulan kurungan serta beban uang pengganti Rp30.582.536.065,32 atau diganti 8 tahun penjara. dre

iklan atas

Pos terkait

iklan atas