Imbas Covid-19, Petani Semangka Alami Kerugian Besar

  • Whatsapp
Imbas Covid-19, Petani Semangka Alami Kerugian Besar
Petani semangka yang menggelar dagangannya di area Jalan Trans Kalimantan, Desa Henda, Kecamatan Jabiren Raya. TABENGAN/YAKIN

PULANG PISAU/tabengan.com – Dampak wabah Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 juga berimbas terhadap petani di wilayah Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis). Petani semangka di Desa Henda, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulpis mengalami kerugian cukup besar karena harga semangka anjlok berlipat-lipat.

Meski hasil panen tahun ini melimpah yang diperkirakan mencapai 400 ton, dan lebih meningkat dari tahun 2019 lalu yang mencapai 250 ton, namun tidak diiringi dengan keuntungan yang tinggi. Malah sebaliknya, mengalami kerugian besar karena sepinya pembeli.

Rina didampingi Teus, petani dari Desa Henda mengatakan, kerugian hasil panen pihaknya ini disebabkan kondisi ekonomi masyarakat yang terdampak Covid-19 sangat berpengaruh besar terhadap perekonomian. Daya beli masyarakat dan pengepul dari daerah lain sangat berkurang untuk membeli semangka.

“Karena dampak Covid-19 inilah yang menyebabkan harga anjlok mencapai Rp2.000 per kilonya saja. Jika itu dibeli secara partai, petani di sini berebut menjualnya, daripada semangka kita tidak laku/busuk,” beber Rina yang didampingi Teus dan para petani lainnya.

Tahun ini, kata Rina, masyarakat sangat bersemangat menanam semangka, karena rata-rata mereka berhasil menanam semangka dengan harga yang bagus di tahun 2019 lalu. Jika dijual secara partai harganya bisa mencapai Rp6.000-7.000 per Kg, namun karena dampak Covid, terpaksa harga diturunkan karena sulitnya mendapatkan pembeli.

“Harga Rp6.000-Rp7.000 itu, kurang barangnya saja di tahun 2019 kemarin, jadi uang yang beredar di tingkat petani bisa mencapai Rp3 miliar dan tahun ini jujur sangat anjlok sekali,” beber Rina menjelaskan.

Padahal, sambung Rina, rata-rata permodalan petani meminjam dari Credit Union (CU) Betang Asi rata-rata Rp15 juta sampai Rp20 juta sebanyak 40 Kepala Keluarga (KK) yang meminjam duit di CU Betang Asi untuk permodalan para petani. Para petani semangka pun kini mulai kebingungan untuk mengembalikan modal.

“Sangat sulit, kalau dilihat dari hasil jual kami sekarang, kita hanya bisa berharap ada dukungan pemerintah untuk mencari jalan keluar masalah kami ini,” ujar Rina diamini para petani semangka di desanya.

Di tempat terpisah, Petugas PPL yang bertugas di Desa Henda Candra Winata mengakui, pada tahun 2020 ini para petani semangka di Desa Henda cukup besar dan berhasil, meningkat hampir 2 kali lipat dari tahun 2019 lalu.

“Kalau kita lihat, para petani semangka sangat berhasil tahun ini, dan tahun ini pun mereka memperluas lahannya. Kami juga tidak menyangka kondisinya seperti ini, minat dan daya beli masyarakat sangat jauh menurun karena dampak Covid-19,” beber Candra.

Di samping itu, sambung Candra, juga ada daerah lain yang melaksanakan panen raya semangka, yaitu di Lamunti dan Basarang, Kabupaten Kapuas, juga di Kecamatan Maliku dan daerah lainnya di Kalteng.

“Panen raya itu juga berdampak pada daya jual dan bisa dikatakan membuat harga menjadi anjlok di samping pengaruh Covid-19 ini,” terang Candra.

Lanjut Candra, sangat banyak mata pencaharian petani yang hilang dan ia juga harap ke depan agar petani semangka ini tidak terlalu jatuh harga, dan ada kekompakan para petani untuk menjual harga yang standar, supaya tidak seenaknya dimainkan oleh tengkulak.

“Karena yang saya lihat, ada petani yang berani menjual di bawah harga yang ditawarkan dan ini dimanfaatkan oleh tengkulak untuk membeli semangka petani, untuk menekan harga,” pungkasnya. c-mye

Pos terkait