Permintaan Turun, Peternak Ayam Broiler Makin Terpuruk

  • Whatsapp
iklan atas

PANGKALAN BUN/tabengan.com – Di tengah wabah Covid-19 yang terjadi di wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), peternak ayam broiler mengalami nasib yang memilukan. Selain turunnya daya serap pasar juga banyaknya ayam yang mati karena faktor cuaca ekstrim dan faktor kegemukan disebabkan usia ayam melebihi masa panen.

Seperti yang dialami Nira Nurohmi (39) warga Jalan Pasir Putih RT 11 Desa Sungai Kapitan Kecamatan Kumai, selama 14 tahun dirinya menggeluti usaha ternak ayam broiler, baru kali mengalami hal yang paling memrihatinkan. Pasalnya sejak adanya wabah Covid-19 mengakibatkan menurunnya permintaan ayam, sehingga berdampak pada masa panen.

“Biasanya usia ayam 35 hari sampai dengan 40 hari langsung kita panen. Ini ada yang sudah berusia 45 hari bahkan ada yang 55 hari belum kita panen karena tidak ada yang membeli. Padahal saat ini kita jual Rp13.000/kg, itu pun tidak seberapa pembelinya. Sementara ayam ayam ini harus tetap kita kasih makan yang menyebabkan kondisi ayam mengalami kegemukan lalu lumpuh dan mati,” ungkap Nira Nurohmi kepada Tabengan, Selasa (21/4).

Hampir tiap hari ada 30 sampai 40 ekor ayam mati. “Sudah hampir 1.000 ekor lebih ayam yang mati karena faktor kelumpuhan akibat kegemukan dan faktor cuaca yang ektrim ini,” ujarnya.

Di dalam menjalani usaha ternaknya, Nira pun bermitra dengan pemodal sistem bagi hasil. Sementara saat ini pihak perusahaan selaku mitra kerjanya tidak ingin tahu masalah banyaknya ayam yang mati sehingga kerugian harus ditanggung sendiri.

“Saya memang bermitra dengan perusahaan yang meminjamkan modal, dimana ada 15 ribu ekor ayam yang bermitra, dan punya saya pribadi ada 5000 ekor. Jadi total semuanya ada 20 ribu ekor dengan jumlah kandang ada 13 kandang,” beber Nira.

Dari 5.000 ekor ayam punya sendiri, dalam kondisi saat ini diperkirakan Nira kerugian mencapai Rp50 juta berikut biaya operasional. Sementara yang menggunakan sistem kemitraan belum dilakukan penghitungan oleh pihak perusahaan.

Meski pembeli ayam di kandangnya menurun, Nira tiap hari tetap harus mengeluarkan uang untuk membeli keperluan pakan seperti roti, singkong dan gula. Olahan pakan itu merupakan alternatif harga pakan yang kini terus naik.

“Untuk 5 ribu ekor ayam saja kita membutuhkan 30 sak roti dan 50 kg singkong yang kita campur. Lalu untuk minumnya kita gunakan gula merah. Dengan kondisi seperti ini, kami sangat membutuhkan solusi dari Pemerintah Daerah jangan sampai semua peternak ayam broiler di Kobar gulung tikar,” harapnya. c-yul

iklan atas

Pos terkait

iklan atas