PKL Menjerit Penghasilan Turun Drastis

  • Whatsapp
iklan atas

PALANGKA RAYA/tabengan.com – Pedagang kali lima (PKL) adalah paling terdampak oleh karena pandemi Covid-19. Mereka menjerit akibat penghasilan yang biasa didapat setiap hari turun drastis.

Seperti halnya dialami Deni penjual es sari tebu, di bilangan Jalan Rajawali, Kota Palangka Raya. Deni mengaku penghasilannya mengalami penurunan yang sangat parah.

Padahal sebelum wabah, dalam sehari dari penjualan es tebunya dapat membawa pulang Rp300.000 setiap harinya. Namun begitu Palangka Raya ditetapkan zona merah paling banyak Rp60.000-Rp65.000 per harinya.

“Penghasilan turun drastis. Untungnya saya tidak ada cicilan motor. Tapi pusing juga bayar sewa barak, sebulan Rp450.000. Sebelum wabah ini bawa dua karung tebu, sekarang 1 karung belum tentu habis,” ujarnya dibincangi Tabengan, Kamis (16/4).

Lebih lanjut dia menyebutkan, saat ini belum ada bantuan baik dari RT atau pun perangkat kelurahan. “Tidak ada bantuan sama sekali dari RT atau manalah. Paling hanya dari dermawan-dermawan entah dari mana,” imbuhnya.

Senada dengan Sulami, penjual pentol yang biasa mangkal di depan SMPN 9 Palangka Raya, Jalan Hiu Putih. Sulami juga merasakan dampak Covid-19 dalam usahanya selama wabah Covid-19 masuk ke Palangka Raya pendapatannya anjlok.

“Sebelumnya sehari bawa pulang uang Rp500.000-Rp600.000. Sekarang cari Rp50.000 susah. Diawal-awal wabah masih dapat Rp100.000- Rp 150.000,” keluhnya.

Sulami mengaku untuk mengatur keuangan sangat sulit sekali karena harus membayar cicilan perumahan di BTN yang sekitar Rp800.000 per bulan.

“Dari Bank disuruh pilih, mau cicilannya diperkecil tapi jangka waktunya panjang lagi, atau bayar bunganya saja. Cicilan diperkecil masih tidak mampu, jadi pilih bayar bunganya saja sekitar Rp150.000. Minta pembayaran di stop dulu pihak Bank mengatakan tidak bisa,” kata Sulami. dsn

iklan atas

Pos terkait

iklan atas