Komunitas Averscom Sampit, Selamatkan Binatang Reptil dari Kepunahan

  • Whatsapp

Tabengan.com – Binatang ular menjadi binatang yang paling ditakutkan masyarakat, terutama yang bermukim di daerah perkotaan. Selain takut dengan racunnya yang berbisa dan sangat membahayakan, banyak masyarakat menganggap ular adalah binatang yang harus dibasmi dengan cara dibunuh.

Namun berbeda dengan yang dilakukan Komunitas Animal Lovers Community Sampit atau yang lebih dikenal Averscom’s Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Mereka justru menjadi penyelamat bagi satwa-satwa yang dinilai banyak orang sangat berbahaya itu.

Salah satu anggota Averscom’s Sampit Tiara Putri menuturkan komunitas tersebut merupakan sebuah komunitas edukasi, rescue, dan herping reptil. Komunitas terbentuk sejak Oktober 2019 dengan anggota berjumlah 49 orang.

” Anggota rata-rata berasal dari wilayah Kotim. Kita semua memiliki niat dan tujuan yang sama sebagai pemerhati reptil,” ujarnya kepada Tabengan, Selasa (14/1).

Selain sering melakukan aksi edukasi kepada masyarakat dan sekolah terkait pentingnya melestarikan reptil untuk menjaga keseimbangan ekosistem, akhir-akhir ini komunitas Averscom’s seringkali melakukan aksi rescue terutama di permukiman warga.

Dalam melakukan aksi rescue di kota Sampit menurut Tiara sudah hampir tidak terhitung dilakukan pihaknya. Apalagi saat kondisi cuaca seperti ini dimana sering ditemukan satwa ular yang masuk ke lingkungan rumah warga.

Namun sayangnya selama ini dalam melakukan penyelamatan pihaknya sering kecolongan dengan aksi warga. Karena satwa lebih dulu diamankan warga dengan acara dibunuh atau dilukai oleh warga yang menemukan.

“Kita seringkali lakukan rescue ular jenis retic, cobra , dipong, kellback bahkan juga satwan jenis lain seperti monyet dan biawak. Jadi untung-untungan dapat satwa yang masih aman,”ucapnya.

Selain itu dalam melakukan aksi rescue, para anggota menurutnya juga seringkali mengalami insiden berbahaya seperti dipatuk atau digigit ular. Meski para anggota sudah cukup bisa untuk melakukan rescue di lapangan. Insiden menurutnya sering terjadi jika aksi rescue dilakukan malam hari. Untungnya ular yang menggigit seringkali merupakan ular yang tidak berbisa. Karena kalaupun saat rescue jika ularnya yang beracun, anggota akan melakukan rescue dengan menggunakan alat bantu seperti hook/grab stick.

Sejauh ini hasil satwa rescu ada yang dipelihara oleh komunitas dan ada juga yang dirilis ke habitat asal. Untuk jenis satwa ular yang dipelihara komunitas, di antaranya king cobra, cobra, pipe snake, orange neeckeld keelback, reticulatus, gold retic, biawak (salvator dan mellinus), boiga/cinmas, tarantula, kalajengking, ular pucuk, ular viper (suban, insul, rhodos, gaboon), ballphython, dipong/ular sayur, sugar glider, otter/berang-berang, musang, kucing dan monyet.

“Sementara untuk satwa hasil rescue jika ada yang luka akan kami pelihara dulu baru di rilis. Jumlah yang kami pelihara itu belum termasuk telur-telur ular yang belum menetas hasil rescue juga,” tuturnya.

Komunitas ini juga tidak menjual-belikan reptil. Pertemuan rutin yang biasa dilakukan hanya untuk berbagi informasi dan edukasi kepada warga Sampit salah satunya di lokasi Ikon Jelawat Sampit.

Selain di Ikon Jelawat komunitas ini, lanjut Tiara, juga beberapa kali mengunjungi sekolah-sekolah untuk memberikan edukasi kepada anak-anak bagaimana mencintai reptil yang kebanyakan dianggap masyarakat bahwa satwa ini dapat mengancam manusia. c-may

Pos terkait