Daging Beku Murah Muncul di Pasar

  • Whatsapp

PALANGKA RAYA/tabengan.com – Pedagang daging sapi di Pasar Besar Kota Palangka Raya mengeluhkan akhir-akhir ini omset penjualan mereka turun drastis. Hal ini disebabkan oleh kemunculan daging beku yang mulai dijual di pasar tradisional.

“Sudah hampir dua bulan ini omset mengalami penurunan. Dari hasil penjualan sebelumnya kalau dihitung-hitung kurang lebih 30 hingga 50 persen,” ucap seorang pedagang daging sapi di Pasar Besar, Hj. Sugiarti, kepada Tabengan, Kamis (28/11).

Berdasarkan pantauan Tabengan, harga daging sapi segar yang dijual di Pasar Besar sekitar Rp115.000-120.000 per kilogram (Kg). Sementara menurut informasi, harga daging sapi beku di kisaran harga Rp80.000 per Kg.

Dia mengungkapkan, dengan harga yang jauh lebih murah ini, membuat para pedagang khawatir terhadap keberlangsungan sebagai pedagang daging sapi. Pihaknya menyayangkan penjualan daging beku di pasar tradisional.

“Ya seharusnya daging beku seperti itu dijual di toko-toko ritel pasar modern ataupun di tempat khusus. Padahal sebelumnya para pelanggan biasanya ambil 10 Kg, namun saat ini hanya 5 Kg,” terangnya.

Senada, pedagang lainnya sekaligus Ketua Asosiasi Pengusaha Pemotong Ternak Sapi atau Kerbau (APPTS) Dede mengatakan, jika kondisi seperti ini terus terjadi, akibatnya akan mematikan pedagang daging sapi di pasar tradisional. Penjualan daging beku ini pun terkesan sembunyi-sembunyi.

“Takutnya nanti seperti di Kotawaringin Timur (Kotim) tidak akan ada lagi pemotongan daging sapi. Kalau saya lihat di sana, kini paling-paling hanya seminggu sekali pemotongan. Sejauh ini kami telah menyurati Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan dan Wali Kota untuk meminta kebijakan terkait penjualan daging beku di pasar, yang kami pertanyakan apakah mereka ada izin atau tidak,” bebernya.

Dede menyampaikan, ada tiga titik penjualan daging beku di Pasar Besar yang beroperasi pada dini hari mulai pukul 01.00-04.00 WIB, sedangkan siang hari tutup.

Terpisah Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kalteng Fahrizal Fitri saat dikonfirmasi mengungkapkan, hal itu merupakan hukum pasar, supaya masyarakat dapat memilih yang lebih murah.

“Ini pilihan masyarakat, kalau mereka ingin pilih yang lebih murah adalah hak mereka. Dimana pasar penyeimbang ini diharapkan menjadi penetrasi, jangan sampai para pedagang pasar berlaku bebas,” ungkapnya.

Lebih lanjut dia mengaku bahwa para pedagang selama ini menentukan harga sendiri, tentunya pemerintah telah mempertimbangkan melalui survei terkait harga standar, yang di dalamnya ada keuntungan.

“Tapi masyarakat ini ingin untungnya lebih besar, maka dari itu pemerintah menentukan harga tersebut,” ujarnya.

Terkait solusi dari Pemprov, Sekda menyebut dengan menurunkan harga sesuai dengan ketetapan yang diatur pemerintah dan mengacu pada hukum pasar siapa yang lebih murah itu yang dibeli. sda

Pos terkait