Ritual Mamparasih Ramu, Menenangkan Roh-roh Benda Museum

  • Whatsapp

PALANGKA RAYA/tabengan.com – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalteng kembali menggelar ritual adat mamparasih ramu di halaman Museum Balanga, Senin (11/11). Kegiatan yang bertujuan memberikan ketenangan bagi para roh suci ini, diharapkan dapat menjaga keamanan, ketenteraman, kedamaian, serta mempersatukan seluruh masyarakat di Bumi Tambun Bungai.

Ritual diawali dengan tampung tawar atau berupa doa, menyampaikan kepada roh-roh yang ada bahwa akan dilakukan semacam hajatan untuk memberi makan mereka. Di sini, yang diharapkan hadir tidak saja roh suci yang membawa kebaikan, tapi roh jahat pun diundang, sehingga terjalin ketenteraman dan tidak saling mengganggu.

Ritual itu sendiri memiliki sejumlah benda pusaka keterwakilan dalam pelaksanaannya. Sebanyak 10 kategori benda pusaka yang ada, masing-masing ditempatkan satu buah untuk dapat mewakili didoakan.

Ke-10 kategori itu: geologika, bilogika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika/heraldika, filologika, keramologika, seni rupa, dan teknologika. Bendanya seperti kayu atau pohon, hasil karya seperti tikar, tenunan, sejarah perjuangan, uang, prangko, piring, lukisan, dan mesin jahit. Beberapa benda inilah yang diletakkan dalam ritual tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng Guntur Talajan mengatakan, ritual yang rutin digelar setiap tahun ini, khusus untuk tahun ini dipimpin oleh 5 orang basir, tokoh yang memimpin doa-doa dengan ajaran agama Hindu Kaharingan.

Ada berbagai jenis barang yang dibersihkan dan berada di dalam kawasan Museum Balanga. Baik itu barang pusaka maupun barang-barang yang sifatnya bersejarah dan memiliki nilai histori yang cukup mahal.

“Adanya ritual mamparasih ramu dalam upaya memberikan ketenangan bagi roh suci dan roh jahat yang ada. Selama ini, para roh suci memberikan ketenteraman dan ketenangan bagi Kalteng. Karena itu, ritual ini diberikan agar para roh ini tetap tenang dan menjaga Kalteng sepenuhnya,” kata Guntur di Palangka Raya, Selasa (12/11).

Menurut Guntur, ritual adat ini menjadi wadah bagi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng dalam mempromosikan wisata yang ada. Ritual ini tidak hanya sebatas acara, tapi diharapkan dapat menimbulkan ketertarikan dari masyarakat untuk dapat datang dan menyaksikan secara langsung.

Guntur menyebut pemerhati budaya, pemerhati seni, dan tokoh adat sangat penting menyaksikan ritual ini secara langsung. Secara umum, ritual ini sebuah ucapan syukur yang dipanjatkan atas hampir berakhirnya tahun 2019. Semua agama, tentu akan mengucap syukur atas dilewatinya tahun 2019 dengan aman, damai, didukung dengan pembangunan yang berjalan dengan baik. ded

Pos terkait