Nariuk, Berburu Ikan Ramah Lingkungan

  • Whatsapp

Tabengan.com – Hari itu cukup terik, bersama seorang gadis asli asal Barito Timur, Tabengan diajak melihat warga yang akan menangkap ikan dengan cara tradisional. Bela, gadis yang juga aktivis lingkungan itu akrab disapa. Motor bebek perlahan dinyalakan sebelum memulai perjalanan.

Lama perjalanan menuju lokasi kurang lebih 45 menit dari Kota Tamiang Layang ke Desa Pulau Patai. Jalan aspal rusak dan berlubang menjadi rintangan kecil selama perjalanan. Di sebelah kanan dan kiri jalan masih terdapat kebun-kebun yang berpohon besar dan lebat. Sesekali ada sungai kecil yang airnya jernih dan berbatu.

Bacaan Lainnya

“Sebentar lagi kita sampai di jalan berpasir, agak licin karena pasirnya halus dan tebal,” terang Bela sembari membenarkan duduk di motor.

Rumah-rumah kayu tak lupa menyapa ketika mulai memasuki perkampungan, sebagian besar masih sangat tradisional. Semak-semak karamunting menjadi tanda bahwa akan memasuki jalan pasir yang dimaksud. Benar saja, cukup licin ketika melewatinya, sesekali kami pun tergelincir sembari tertawa.

Langit sangat biru, berhias awan seperti kapas, dan rawa-rawa yang mengering menyisakan padang rumput luas sejauh mata memandang. Beberapa kerbau sedang makan siang tampak lahap tanpa menghiraukan panasnya sengat matahari.

“Nanti sampai di gubuk kita parkir lalu jalan kaki menyeberang parit untuk ke lokasinya,” ungkap gadis 26 tahun itu. Tak lama setelahnya, kami sampai di sebuah gubuk tua untuk memarkir motor. Sudah ada beberapa motor yang terparkir acak tanda sudah banyak orang yang sedang menariuk.

Bela menjelaskan, selain kegiatan nariuk yang dilakukan para pria juga ada kegiatan mangaruhi atau menjaring ikan dengan keranjang anyaman rotan maupun bambu yang dilakukan oleh para wanita.

“Ibu-ibu biasanya ada juga yang sedang mangaruhi tapi lebih di anak-anak sungai yang kecil dan lebih dangkal,” tutur gadis bertopi itu biru sembari membuka botol air minum kemasan yang dibawanya.

Setelah menyeberang parit, terlihat puluhan pria dengan tombak bambu panjang yang dihujamkan ke dalam air. Para pria tersebut mengapung di permukaan air menggunakan ban-ban dalam bekas truk atau mobil sebagai pelampungnya.

Suara-suara canda tawa dan sorakan terdengar setiap ada salah satu yang mendapatkan ikan menancap di ujung mata tombak. Bahkan, ada juga anak kecil yang ikut bersama ayahnya dalam kegiatan tersebut.

Ketika mata menyapu, tampak seorang bapak mendayungkan tangannya sembari menepi. Perlahan menaiki tebing sungai yang mengering, menggapai akar-akar pohon yang menonjol untuk berpegangan.

Kartono (47) nama bapak tersebut. Ia mendapatkan ikan tapah dan baung yang cukup untuk lauk di rumahnya. Hampir setiap akhir pekan selama musim kemarau dirinya menariuk bersama teman-temannya.

“Kami menggunakan bambu tamiang untuk gagang tombaknya, dan ujungnya atau teriuk berbahan besi yang tajam. Ukurannya ada dari 8-16, menyambungnya dengan menggunakan lem besi,” terangnya sembari memeras baju yang basah.

Kartono menerangkan, di Kecamatan Paku masyarakat lebih banyak menggunakan kayu ulin ketimbang bambu tamiang. Tiap daerah memiliki alat khasnya masing- masing yang digunakan sebagai tombak atau teriuk.

“Kami biasanya dapat banyak apalagi kalau awal sungai surut, tapi akhir-akhir ini mulai sedikit ikannya karena sudah banyak yang menariuk. Teman-teman yang ikut juga banyak yang dari jauh, bahkan ada yang dari Kalimantan Selatan,” ucapnya.

Selain itu, kata Kartono, biasanya alat yang digunakan hasil bikinan sendiri walaupun ada yang dijual antara harga Rp50-250 ribu. Harga tersebut tergantung panjang tombak, tariuk sendiri panjangya 75 cm dan gagang tombak bisa sampai 7 meter.

Kartono dan warga lain memilih untuk nariuk karena cara berburu ikan dengan cara tradisional yang tidak merusak ekosistem dan juga melestarikan adat istiadat yang dilakukan oleh para pendahulunya. Yang jelas, ramah lingkungan.

“Beberapa waktu lalu kegiatan ini sempat dijadikan lomba, harapannya itu bisa dijadikan agenda tahunan untuk melestarikan tradisi adat Dayak Ma’anyan supaya masyarakat dan anak-anak sekarang tahu ada budaya mencari ikan yang ramah lingkungan serta dapat mempererat kebersamaan,” harapnya. yohanes

Pos terkait