RSUD Perbaiki Nutrisi Pasien Gizi Buruk

  • Whatsapp

PALANGKA RAYA/tabengan.com – Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Doris Sylvanus Palangka Raya drg. Yayu Indriaty membenarkan, pihaknya telah menerima seorang pasien kasus gizi buruk pada anak, rujukan dari Puskesmas Marina Permai, Kota Palangka Raya, Minggu (10/11) lalu.

“Pasien tersebut adalah anak usia 8 tahun dengan berat badan 15 kilogram, dan ini sudah kita tangani. Hari ini (Senin), dilakukan pemeriksaan penunjang terlebih dahulu,” ujar Yayu, ditemui di sela-sela Dies Natalis Ke-56 Universitas Palangka Raya (UPR) tahun 2019, di halaman Kantor Rektorat UPR, Senin (11/11).

Bacaan Lainnya

Untuk memperbaiki gizi buruk pada pasien tersebut, jelas Yayu, akan ditangai oleh dokter spesialis anak yang ada di RSUD Doris Sylvanus. Selanjutnya, dilakukan pemantauan kebutuhan-kebutuhan nutrisi dan pemeriksaan lanjutan yang diperlukan untuk memperbaiki kondisi pasien.

Sebagai rumah sakit rujukan, pihaknya akan melihat lebih dalam lagi apakah pasien tersebut murni karena gizi buruk atau ada faktor-faktor lain yang mempersulit, sehingga perkembangan gizinya tidak maksimal. Seberapa jauh pasien yang bersangkutan bisa kembali normal, sangat tergantung dengan kelainan yang dialaminya. Pihaknya akan melihat kelainan tersebut.

“Yang pasti segala bentuk kelainan dan bentuk kekurangan tersebut akan kita perbaiki,” ujarnya.

Menurut Yayu, RSUD Doris Sylvanus akan melakukan pengobatan dan penanganan gizi yang cukup untuk pasien tersebut. Mantan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalteng itu mengakui, sampai saat ini pihaknya masih ada menerima kasus gizi buruk rujukan dari kabupaten/kota di Kalteng. Mengingat kasus gizi buruk tidak berdiri sendiri, namun ada faktor-faktor lain yang menjadi penyebabnya.

Tingkatkan Kepekaan
Sementara itu, Kadinkes Kota Palangka Raya drg. Andjar Hari Purnomo mengimbau masyarakat agar memiliki kepekaan terhadap lingkungannya. Tak ada salahnya memerhatikan tetangga yang ada di sekitar tempat tinggal.

“Diperlukan kepekaan seluruh lapisan masyarakat untuk peduli kepada tetangga, sehingga setiap ada permasalahan kesehatan sejak dini bisa diatasi, dan bisa secepatnya dilaporkan ke instansi terkait,” kata Andjar kepada Tabengan, Senin.

Andjar menyebut dalam tahun ini telah ditemukan 3 kasus gizi buruk pada usia balita. Namun, bukan murni gizi buruk karena kekurangan makanan, tetapi lebih disebabkan ada penyakit penyerta, seperti kelainan jantung bawaan dan radang paru.

Barangkali kasus Inun (20) dan Rianti (8), warga Tanjung Pinang, Kecamatan Pahandut, Palangka Raya adalah puncak gunung es yang terjadi selama ini. Mari meningkatkan kepekaan bersama agar tidak ada lagi yang menjadi korban gizi buruk. dkw/dsn

Pos terkait