Tiga Desa Di Perbatasan Mahulu Nikmati Listrik 24 Jam

  • Whatsapp
iklan atas

Long Pahangai/tabengan.com – Setidaknya ada tiga kampung (desa) di kawasan perbatasan negara dalam Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur, kini bisa menikmati layanan listrik 24 jam setelah terpasang solar cell dari anggaran pemerintah pusat.

Tiga kampung di kecamatan yang berbatasan dengan Serawak, negara bagian Malaysia itu adalah Kampung Long Pakaq Baru, Long Pakaq, dan Kampung Delang Kerohong.

“Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terpusat atau solar cell ini berkapasitas 64 kWp yang dibangun dari Alokasi Dana Khusus (DAK) melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Timur tahun 2018,” ujar Kepala Kampung Long Pakaq Baru, Frumentius di Long Pahangai, Rabu.

Ia mengaku warga bersyukur setelah adanya pembangkit listrik yang beroperasi 24 jam tersebut, karena kini masyarakat setempat bisa mengerjakan hal-hal penting di malam hari. Bahkan di siang hari pun warga bisa menggunakan peralatan yang membutuhkan listrik seperti bor, gerinda listrik, dan barang-barang elektronik lainnya.

Tahun 2018 atau sebelum adanya PLTS tersebut, warga yang mampu membeli generator set (genset) kecil bisa menikmati listrik rata-rata empat jam, sekitar pukul 18.30 hingga 22.30 waktu setempat. Sedangkan warga yang tidak memiliki genset, tentu masih pakai lampu tempel.

Meski warga yang mampu membeli genset pun terasa berat karena harus mengeluarkan uang untuk membeli bensin, karena sebelum diberlakukannya BBM satu harga, di kawasan perbatasan itu masih di atas Rp15 ribu per liter. Sedangkan setelah berlakunya BBM satu harga, turun menjadi Rp10 ribu per liter di tingkat pengecer.

“Katakanlah harga bensin Rp10 ribu per liter. Untuk menyalakan genset empat jam per malam, maka diperlukan bensin 2 liter yang berarti membutuhkan uang Rp20 ribu per liter. Berarti dalam satu bulan harus menyisihkan anggaran mencapai Rp600 ribu hanya untuk listrik empat jam per malam, hal ini tentu sangat berat,” katanya.

Namun kini, lanjutnya, beban itu berubah menjadi berkah karena dengan listrik yang menyala 24 jam, justru masyarakat hanya membayar Rp60 ribu per bulan, sehingga secara ekonomis masyarakat bisa berhemat.

“Khusus untuk di kampung kami, PLTS ini digunakan untuk sekitar 130 KK dengan penduduk sebanyak 475 jiwa. PLTS ini juga disalurkan ke Kampung Delang Kerohong. Sedangkan untuk kampung di seberang Sungai Mahakam, yakni Long Pakaq, memiliki PLTS yang sama dengan kampung kami,” ucap Frumentius. ant

iklan atas

Pos terkait

iklan atas