Udara Palangka Raya Tidak Sehat

  • Whatsapp
iklan atas

PALANGKA RAYA/tabengan.com – Selama kemarau tahun ini, sejumlah lahan di Kota Palangka Raya terbakar dan menimbulkan kabut asap yang mulai mengganggu masyarakat. Kualitas udara di Ibu Kota Provinsi Kalteng memang terasa menyesakkan dada.

Kepala Sub Bidang Fasilitasi Penyelamatan dan Bantuan Bencana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalteng Vivien Rose Engely mengungkapkan kondisi udara di Palangka Raya berdasarkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang dikeluarkan oleh BMKG Palangka Raya masuk kategori tidak sehat.

Bacaan Lainnya

iklan atas

Menurut Vivien, ISPU di Palangka Raya berada pada posisi 150, untuk 0-50 masuk dalam kategori baik, 51-100 masuk kategori sedang, dan 101-199 masuk kategori tidak sehat.

Namun, ISPU dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Palangka Raya berbeda jauh dengan ISPU dari KLHK Palangka Raya yang menyebutkan ISPU pada angka 40, sehingga masuk dalam kategori baik.

Berdasarkan pantauan di display order ISPU di Bundaran Besar, 6 Agustus 2019 pukul 12.30 WIB, PM 10 berada di angka 76 (kategori sedang), PM 2,5 berada di angka 40, SO2 berada di angka 18 (kategori baik), CO berada di kategori baik, serta 03 dan NO2 berada di kategori baik.

“Ya untuk kualitas udara yang terakumulasi sejak kemarin, kualitas udara di Palangka Raya dalam kategori sedang dengan nilai ISPU 76 jika dilihat dari parameter PM 10-nya,” ungkap Kepala UPT Laboratorium Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kota Palangka Raya Bowo Budiarso kepada Tabengan, Selasa (6/8).

Berdasarkan Kepmen LH No: Kep 45/MenLH/10/1997, terdapat 5 parameter kualitas udara di Indonesia yang digunakan pihaknya, yaitu kategori baik dengan rentang nilai ISPU 0-51, kategori sedang dengan rentang ISPU 51-101, kategori tidak sehat dengan rentang ISPU 101-199, kategori sangat tidak sehat dengan rentang ISPU 200-299, dan kategori berbahaya dengan rentang ISPU 300-5000.

“Saat ini udara kita dalam kategori yang tingkat kualitas udaranya tidak berpengaruh pada kesehatan manusia, tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika. Namun, kita perlu tetap mewaspadai dampak negatif atas kualitas udara yang kurang baik,” jelasnya.

Untuk data-data kualitas udara tersebut, lanjut Bowo, berasal dari pantauan stasiun pemantau kualitas udara milik Kementerian Lingkungan Hidup di Kantor Kecamatan Jekan Raya, yang selalu update pada pukul 09.00 pagi setiap harinya. Meskipun beberapa waktu lalu sempat mengalami kerusakan, namun telah ada perbaikan dari pemerintah pusat.

“Sekarang masyarakat bisa memantau langsung kualitas udara dengan melihat di ISPU Bundaran Besar. Atau bisa mengecek di situs milik KemenLHK dengan alamat iku.menlhk.go.id,” pungkasnya.

Hujan Buatan

Pelaksana Tugas (Plt) BPBPK Kalteng Mofit Saptono menyebut usulan hujan buatan untuk mengatasi Karhutla yang terjadi di Kalteng, bukan kewenangan pihaknya. Usulan juga harus didasari dengan berbagai data dari BMKG.

Hal ini disampaikan Mofit saat dibincangi Tabengan usai mengikuti rapat Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kalteng, di gedung dewan, Senin (5/8). Menurutnya, penanganan Karhutla yang semakin parah di Bumi Tambun Bungai ini telah dilaksanakan dengan maksimal.

“Jadi menggunakan hujan buatan itu ada berbagai macam syarat yang harus dipenuhi, saya bisa menjelaskan tapi bukan institusi yang boleh menjelaskan itu,” kata Mofit.

Mantan Wakil Wali Kota Palangka Raya ini mengatakan hujan buatan itu bisa diajukan dengan berbagai macam syarat, seperti tingkat keawanan dan sebagainya.

“Biarlah teman-teman BMKG yang menjelaskan itu, kalau kita mengajukan itu kan harus ada dasarnya data-data dari BMKG apa. Kecuali kalau BMKG menyampaikan bahwa secara teknis, dari analisis yang ada bisa dilakukan hujan buatan, mungkin saja. Tapi kan kita bukan institusi yang boleh melakukan kajian-kajian seperti itu,” terang Mofit.

Lebih lanjut dikatakan, penanganan Karhutla di Kalteng sekarang ini sudah dilakukan secara maksimal, baik melalui jalur darat maupun melalui udara dengan water bombing.

“Ini juga banyak kendala, misalnya jangkauan terlalu jauh, airnya terlalu kering bahkan tidak ada sama sekali. Kemudian kebakaran yang terjadi juga sudah sangat meluas, tidak memungkinkan dengan pemadaman darat,” pungkasnya. rgb/ded/sgh

iklan atas

Pos terkait

iklan atas