Tarif Kargo Mahal dan Ongkos Kirim Naik, Penjualan Online Meredup

  • Whatsapp

PALANGKA RAYA/tabengan.com – Kenaikan tarif kargo dan ongkos kirim di perusahaan jasa kurir, berdampak ke sejumlah sektor perekonomian. Hal ini dikeluhkan beberapa pengusaha online dan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Palangka Raya. Salah satunya diakui Putri Ayu, owner online shop dengan akun putrishop Palangkaraya.

Putri menawarkan barang seperti baju, sepatu, tas, serta jam tangan. Kenaikan ongkos kirim secara tiba-tiba, kata Putri, sangat berpengaruh terhadap penjualan dan minat konsumen. Pendapatannya turun sangat signfikan per Januari 2019. Pada bulan November sampai Desember sempat terjadi peningkatan. Setelah adanya kenaikan tariff kargo, penghasilannya turun hingga 50%. “Ditambah lagi sekarang pengiriman sering overload, kebanyakan pelanggan saya membatalkan pesanannya,” ucap Putri, Kamis (14/2).

Di tempat lain, owner UMKM Berkat Uhat Kayu, Heni Wiji Astuti, juga mengakui hal senada. UMKM ini menawarkan obat-obat herbal, seperti teh bawang Dayak celup, teh pasak bumi, ramuan bawang lemba, serta bermacam obat lainnya. “Kami menawarkan produk kami melalui sosial media, seperti instagram dan whatsapp, serta juga memasarkan langung ke masyarakat. Dengan kenaikan ongkos kirim ini, sedikit banyak berpengaruh terhadap penjualan,” katanya.

Heni berujar, biasanya Ia berangkat mengikuti pameran menggunakan free baggage 20 kg yang disediakan maskapai. Sekarang mau tidak mau harus mengirim produk via kargo ataupun jasa pengiriman, dan tingginya tarif ini mempengaruhi pengeluaran. “Pengiriman produk kami sudah hampir seluruh Indonesia, jadi berpengaruh terhadap pendapatan, tetapi tidak terlalu signifikan,” ungkap Heni.

Ibu yang aktif di kegiatan UMKM di Palangka Raya ini bahkan pesimis soal rencana ekspor, setelah ongkos kirim naik. “Bagaimana produk kami bisa keluar daerah dengan kebijakan seperti ini. Kami berharap pemerintah bisa mencari solusi dari masalah yang akhir-akhir ini terjadi. Pemerintah dan maskapai harus lebih memikirkan efek domino yang berdampak ke hampir semua sektor dari kebijakan yang akan diambil,” ujar Heni. m-sda

Pos terkait