Ditemukan Banteng Langka di Lamandau

  • Whatsapp

PANGKALAN BUN/tabengan.com – Di Kabupaten Lamandau telah ditemukan banteng spesies baru atau bukan banteng yang berkerabat dengan banteng Jawa (Bos javanicus). Hal itu terbukti dari hasil DNA yang dilakukan Yayasan Orangutan Indonesia (Yayorin).

Iman Safari, Program Manajer Yayorin, mengatakan pihaknya mendapat laporan dari masyarakat di sekitar Land Scape Belantikan Kabupaten Lamandau bahwa ada muncul banteng. Itu diperkuat dengan hasil foto pada tahun 2012 tertangkap gerombolan banteng.

Bacaan Lainnya

“Kemudian pada tahun 2015 kami melanjutkan riset keberadaan banteng-banteng itu. Kami melakukan penelitian terhadap DNA apakah banteng itu masih berkerabat dengan banteng Jawa (Bos javanicus). Dan, hasilnya menguatkan bahwa banteng di Belantikan Lamandau 4,3 persen menyatakan bukan berkerabat dengan banteng Jawa,” ungkap Iman Safari kepada Tabengan, Kamis (14/2) sore.

Dia menerangkan pada 2012 kamera menangkap ada 30 ekor banteng, namun seiring waktu populasinya berkurang sekitar 15 sampai 20 ekor saja. Dalam kelompok banteng itu ada 2 anak banteng.

Iman mengakui meski jumlah populasi banteng tidak sebanyak populasi orangutan yang angkanya mencapai ribuan, namun banteng juga merupakan hewan mamalia yang dilindungi, sehingga semua pihak wajib memberikan perlindungan atas keberadaan banteng tersebut agar tidak punah.

“Untuk Kalimantan Tengah saat ini hanya ada di Kabupaten Lamandau yang masih memiliki banteng. Kami sangat mengkhawatirkan terhadap perburuan liar karena saat kami ke sana (Land Scape Belantikan) ada kita jumpai pos-pos untuk berburu,” kata Iman.

Menurutnya, masyarakat sekitar Land Scape Belantikan seperti Desa Nanga Matu, Bintang Mangalih, Petarikan, Kahingai, Benuatan sudah mengerti keberadaan banteng itu harus dilindungi, tetapi masyarakat dari luar desa itulah yang dikhawatirkan akan melakukan pemburuan.

“Kami harapkan Pemerintah Kabupaten Lamandau segera buat peraturan daerah tentang larangan melakukan perburuan terhadap banteng,” cetus Iman.

Namun, menurutnya, Pemkab Lamandau juga sangat mendukung dan mengapresiasi atas keberadaan banteng itu, karena Pemkab Lamandau telah menetapkan kantong konservasi banteng seluas 1.700 hektare sebagai zona inti.

“Keberadaan banteng di Belantikan Lamandau juga telah ditinjau langsung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan Kehutanan Provinsi Kalteng. Bahkan, langsung membentuk Forum

Konservasi Banteng Belantikan. Forum itu sebagai bentuk kepedulian terhadap keberadaan banteng agar tetap terjaga dari kepunahan,” terangnya.

Evakuasi Ular Piton

ular pithon 5 meter
BKSDA SKW II Kalteng di Pangkalan Bun mengevakuasi ular piton dari rumah warga yang temukan di kolong kamar mandi. TABENGAN/YULIANTINI

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi Wilayah II (SKW) Pangkalan Bun Kabupaten Kotawaringin Barat, Kamis (14/2) pagi, mengevakuasi ular piton sepanjang 5 meter dan berat 30 Kg dari salah satu rumah warga di Jalan A. Yani Km 5,5 Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan.

Agung Widodo, Kepala BKSDA SKW II Kalteng di Pangkalan Bun, mengatakan pihaknya mendapat laporan salah seorang warga bahwa di kolong rumahnya ada ular ukuran besar. Petugas pun langsung meluncur ke lapangan.

“Sekitar pukul 08.00 WIB kami dapat laporan, dan pukul 08.30 WIB petugas kami langsung meluncur ke lokasi, dan benar ada ular piton atau ular sawa berada di kolong kamar mandi. Petugas langsung melakukan penangkapan, evakuasi, dan dilepasliarkan di kawasan hutan satwa Marga Sungai Lamandau,” terang Agung kepada Tabengan, Kamis (14/2).

Agung menjelaskan meski jenis ular piton tidak sebahaya ular kobra, namun dengan ukuran yang besar bisa memangsa dengan cara melilit dan menelan. Sedangkan ular kobra satu semprotan bisanya dapat melumpuhkan semua organ dan berujung pada kematian.

“Akhir-akhir ini munculnya ular piton karena faktor banjir. Jadi saat banjir itu ular terbawa air dan akhirnya terperangkap, sehingga sering dijumpai di rumah penduduk dan sebelumnya di Terminal Bus Natai Suka,” ujar Agung. c-uli

Pos terkait