Mamapas Lewu dan Mampakanan Sahur Usir Hal Buruk

  • Bagikan

Tabengan.com – Ritual mampakanan sahur dan mamapas lewu kembali digelar di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. Ritual yang diawali dari batawur marawei sangiang hingga ke ritual mamapas lewu ini bermaksud untuk membersihkan daerah dari hal-hal buruk.

Adapun rute yang dilalui rombongan mamapas lewu, mulai dari Bundaran Besar Km 3,2 Sampit – Jalan Sudirman – A Yani – Yos Sudarso – MT Haryono – Kapten Mulyono – Tjilik Riwut – Samekto – Iskandar dan Pelabuhan Habaring – Hurung Sampit.

“Kita tujuan utamanya untuk memanjatkan doa kepada Tuhan, membebaskan Sampit dan Kotim ini dari berbagai permusuhan, perselisihan dan segala penyakit, juga musibah,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim Fajrurrahman.

Pungkal, Ketua Acara Adat Mampakanan Sahur dan Mamapas Lewu, mengatakan, prosesi sebenarnya sudah berlangsung sejak Minggu (25/11), dan Senin (26/11) merupakan acara puncak.

Dijelaskannya, mampakanan sahur dilaksanakan dalam rangka memberikan persembahan atau sesajen kepada “sahur” roh-roh gaib. “Sahur” diartikan kelompok roh-roh gaib yang mempunyai kekuatan dan kemampuan supranatural yang juga hidup berdampingan di alam bersama manusia.

Sementara kegiatan mamapas lewu sendiri dapat diartikan sebagai gambaran kehidupan masyarakat sejak nenek moyang suku Dayak dulu yang memang cinta damai, terbuka, suka bergaul serta menjalin peratuan dan kesatuan (falsafah rumah betang) secara utuh.

Kegiatan mamapas lewu bertujuan untuk membersihkan alam dan lingkungan hidup (petak danum) beserta segala isinya dari berbagai sengketa, marabahaya, sial wabah penyakit (rutas pali) untuk menciptakan suasana panas menjadi dingin gerah menjadi sejuk.

“Upacara ini dapat berkonotasi doa yang dipanjatkan kepada sang maha pencipta agar terciptanya kehidupan abadi di muka bumi, terhindar dari segala musibah, pertikaian, iri dengki sehingga terciptalah manusia dan alam lingkungannya yang saling mengasihi, menghormati dan menghargai antarsesama,” ungkapnya.

Tujuan lainnya, jelas dia, memasyarakatkan ritual dan budaya, baik dalam hal nuansa religius maupun mengakomodasi kreativitas. Saat ini ada kecenderungan generasi muda kurang memahami dan mencintai budaya lokal sehingga harus kembali diberi pemahaman yang benar. “Kita harus menggugah semua orang bahwa penting untuk mempertahankan budaya kita ini,” katanya.

Sementara Wakil Ketua DPRD Kotim H Supriadi MT saat menghadiri dan membuka kegiatan upacara adat mampakanan sahur dan mamapas lewu di Taman Miniatur Budaya Kotim Km 3,5 Sampit, mengatakan, upacara adat dan ritual mampakanan sahur dan mamapas lewu merupakan salah satu warisan leluhur dan budaya yang patut dijaga kelestariannya. Kegiatan ini juga sarat akan nilai-nilai budaya yang bisa menjadi daya tarik wisata.

Dikatakan, event budaya tahunan ini mempunyai unsur-unsur budaya yang unik bagi para wisatawan yang mengandung nilai khazanah daerah pada khususnya dan nasional pada umumnya. Untuk mendukung prosesi event pariwisata, Pemkab Kotim memfasilitasi prosesi ritual adat tersebut, sehingga menjadi agenda yang telah ditetapkan.

Selain itu, katanya, kegiatan tersebut berpotensi untuk dikembangkan menjadi salah satu alternatif wisata selain yang Kotim miliki, seperti Pantai Ujung Pandaran dan wisata lainnya. Dengan harapan apabila dikembangkan, bisa menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) bagi Kotim. c-may

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *