Silpia Berusaha Meraih Tangan Raihan

  • Bagikan

Tabengan.com – Silpia (35) ibu dari Raihan (18 bulan) masih terlihat begitu berduka. Pasalnya. memasuki hari kedua putra kesayangannya belum ditemukan pasca musibah tabrakan kelotok di Tanjung Api Api DAS Kumai Desa Sei Kapitan, Kecamatan Kumai.

Pada Rabu (21 /11), Tabengan bertandang ke kediaman Silpia yang tinggal di rumah mertuanya di Jalan Iskandar Gang Hidayah 2 RT 18 Kelurahan Madurejo. Di rumah tersebut masih Nampak banyak tetangga berdatangan untuk menjenguk Silpia sambil menanti kabar Raihan, yang hingga kini belum ditemukan.

Di ruangan tengah rumah, nampak Silpia terduduk di atas kasur dengan beberapa luka akibat musibah itu. Pada saat kejadian itu dirinya selamat, namun putranya hilang dan diduga tenggelam.

“Saya tidak ingat apa-apa saat itu, karena gelap dan saya berusaha keras untuk terus memegang tangan Raihan, dan satu tangan saya berpegangan pada kayu kelotok. Namun tiba tiba tangan Raihan terlepas, saya pun berusaha mencari sambil memanggil Raihan…. Raihan…. Raihan…,” ucap Silpia saat bercerita kepada tetangga yang menjenguknya.

Menurut Silpia, kondisi saat itu sangat gelap dan begitu kelotok yang ditumpanginya ditabrak kemudian terbalik, dia pun masuk ke dalam air. Sekuat tenaga dia meraih kayu kelotok dan terus memegang tangan putra kesayangannya.

“Saya duduk berhadapan dengan motoris dan anak saya Raihan pas di depan saya, saat itu Raihan tertidur di depan saya, begitu kelotok terbalik, saya pun tetap memegang tangan Raihan dan satu tangan saya memegang kayu kelotok, sekuat tenaga agar genggaman tangan saya tidak lepas dari Raihan,” ucap Silpia berkaca kaca.

Silpia pun menceritakan dia bersama Raihan memang menumpang kelotok yang akan membawa barang material ke Sungai Cabang. Kebetulan dirinya ingin menjenguk ayahnya yang tinggal di Sungai Cabang.

“Saya menumpang dan kebetulan yang punya kelotok itu masih saudara saya, kejadian itu begitu cepat, saya pun ditolong oleh laki laki sampai hari ini saya belum tau siapa orang itu,” ucap Silpia

Sementara itu, Muchtar (55) ayah dari Silpia begitu dapat kabar kejadian itu sekitar pukul 05.00 WIB, dirinya pun pergi menggunakan kelotok untuk bisa sampai di Kumai guna menjenguk kondisi putri dan cucu kesayangannya. Sudah hampir 6 bulan ini Muctar tidak bertemu Raihan.

“Saya ini tidak bertemu dengan anak saya dan Raihan hampir 6 bulan, makanya Silpia dan Raihan ingin menjenguk saya dan neneknya, begitu dapat kabar kecelakaan itu, padahal kondisi di Sungai Cabang berkabut dan angin kencang, saya harus sampai ke Kumai untuk melihat kondisi anak dan cucu saya,” ujar.

Menurut Muchtar perjalanan dari Kumai sampai ke Desa Sungai Cabang ditempuh 4 jam, tetapi kalau cuaca buruk bisa 6 jam, karena memang untuk mencapai ke desa itu harus melalui laut lepas.

Selain mendatangi kediaman orangtua Raihan, Tabengan pun mendatangi rumah orangtua Muhammad Ridwan (5,5) di Gang Sapil Jalan A Yani RT 20 Kelurahan Baru, namun rumahnya kosong. Berdasarkan keterangan dari tetangga orangtua Muhammad Ridwan, bahwa Ridwan dimakamkan di Desa Kubu, Kecamatan Kumai.c-uli

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *