Disbudpar Ingin Tiwah Jadi Event Nasional

  • Bagikan

PALANGKA RAYA/tabengan.com – Acara Tiwah merupakan ritual keagamaan yang sangat sakral bagi umat Kaharingan. Tidak semua keluarga mampu melaksanakan upacara memindah tulang ini, karena memerlukan anggaran yang tidak sedikit. Tahapan-tahapan dilakukan, mulai dari manenung atau meminta petunjuk untuk saat yang tepat pelaksanaan, tahapan persiapan, hingga pelaksanaan.

Untuk melaksanakan Tiwah harus mempersiapkan berbagai hal, mulai dari hewan kurban hingga patung Sapundu yang terbuat dari kayu ulin. Diperlukan kreativitas tinggi untuk dapat mengukir kayu ulin, sehingga menjadi berbentuk dan menyerupai manusia.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kalimantan Tengah (Kalteng) Guntur Talajan, Jumat (16/11), mengatakan, ritual Tiwah memiliki nilai yang sangat tinggi dan luhur, sehingga wajib untuk dilestarikan, salah satunya difasilitasi pemerintah pelaksanaannya untuk keluarga yang ada di Kalteng.

Berbicara Sapundu, kata Guntur, Tiwah yang dilaksanakan di Balai Kaharingan Palangka Raya masuk dalam tahap persiapan, dimana dikerjakan secara swadaya oleh pihak keluarga. Pembuatan Sapundu dilakukan dengan sebaik mungkin, sesuai dengan tatanan dalam pembuatan, dan ketentuan yang menjadi fungsi Sapundu dalam pelaksanaan ritual keagamaan tiwah.

Disbudpar Kalteng memandang, ritual ini merupakan sebuah kekayaan yang wajib dilestarikan dan diketahui serta disosialisasikan kepada masyarakat. Karena itu, Disbudpar Kalteng untuk pertama kali melaksanakan ritual keagamaan umat Kaharingan, yaitu Tiwah. Ritual mengantar leluhur menuju surga ini, merupakan kegiatan yang diharapkan dapat menjadi salah satu ritual yang masuk dalam kalender budaya Kalteng, dan menjadi event nasional.

Guntur menjelaskan, ritual keagamaan ini sebagai bentuk penghormatan yang dilakukan keluarga terhadap leluluhur atau orang yang dicintai yang sudah meninggal dunia. Bagaimanapun Tiwah merupakan salah satu ritual keagamaan yang sudah sangat tua, dan masih sering dilakukan oleh umat Kaharingan yang ada di Kalteng.

“Saya ingin, ritual keagamaan Tiwah ini, terus dipertahankan eksistensinya. Langkah yang diambil pemerintah adalah dengan melaksanakannya sekarang ini, dan akan diajukan ke pemerintah pusat untuk menjadi salah satu event budaya tahunan Kalteng, dan masuk dalam kalender nasional Kementrian Pariwisata,” kata Guntur. ded

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *