Milenial Memilih Pemimpin

  • Whatsapp

Tabengan.com – Konon keunikan perbedaan generasi milenial denga generasi sebelumnya, karena mereka lahir di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat. Dan milenials menemani proses transisi perkembangan tekhnologi dari masa kemasa. Mulai dari TV hitam Putih, berubah menjadi TV berwarna, masuk dalam dunia alat komunikasi, Handphone, internet bahkan sekarang berada pada era teknologi modern, atau biasa disebut New Media.

Sehingga milenial dapat dibilang sangat mahir dalam urusan teknologi. Maka tidak heran jika pengguna terbesar hampir dari seluruh platform media sosial didominasi oleh generasi millenial ini.

Untuk itu, jangan heran, jika melihat semua pihak menyoal milenial, termasuk para pengusaha, bahkan menyesuaikan produknya untuk kalangan milenial.

Millenials Effect bahkan kini masuk ke ruang-ruang politik. Para politisi, baik secara personal maupun secara kelembagaan partai, kerap menggunakan personal branding mereka dengan penampilan anak muda.

Data dari CSIS menunjukkan ada sekitar 15-20 % Milenials dari jumlah pemilih secara nasional. Namun data terbaru dari lembaga survei Voxpop Center juga menerangkan bahwa ada sekitar 40% suara dari kalangan millenial pada gelaran Pemilu 2019 mendatang.

Fakta ini menujukkan bahwa banyak pihak berbondong-bondong ingin mendapatkan perhatian, tak terkecuali para politisi yang sangat ingin menyasar generasi milenial sebagai pemilihnya nanti pada gelaran Pemilu 2019.

Untuk itu banyak pengamat, tak terkecuali para politisi yang menganalisis terkait karakteristik generasi milenial agar mereka dapat mengetahui seperti apa pemimpin yang diidolakannya, atas dasar apa mereka memilih calon pemimpinnya, dan bagaimana kecenderungan dan langkah milenial dalam setiap mengambil keputusan politik?

Ada 4 karakteristik pemilih milenial :
1. Butuh Bukti Bukan Janji
Barangkali bukan hanya milenial, semua Rakyat Indonesia pun memang butuh bukti dan menagih setiap janji politik para pemimpinnya yang terpilih. Namun begitulah kecenderungan milenial, kalimat “Butuh Bukti Bukan Janji” itu bukan sebuah ungkapan yang klise, milenials justru malah sering kali membandingkan secara konkret kinerja para pemimpinnya.

2. Persona/Ciri Khas Tokoh
Pemimpin yang bagus adalah pemimpin yang berkarakter. Untuk itu kepada para politisi silahkan saja buat persona, dan ciri khasnya semenarik mungkin, sebagus mungkin, sehingga generasi milenial cukup terbantu dalam mengenali dan mengidentifikasi diri anda, selain karena nama, juga bisa karena persona atau ciri khas.

3. Sosok Merakyat dan Sederhana
Entah mengapa dikehidupan modern generasi milenial mengidolakan sosok pemimpin yang merakyat dan sederhana. Mereka justru malah tidak suka dengan pemimpin yang parlente, dan mewah-mewahan. Milenial bangga melihat kesederhanaan seorang pemimpin, karena bagi milenial Pemimpin yang merakyat dan sederhana dinilai dekat dengan masyarakatnya.

4. Familiar di Media Sosial
Di media sosial, semua calon pemimpin bisa melakukan apapun, dengan calon pemilihnya, melakukan interaksi, memberi informasi, menjabarkan visi dan misi, atau bahkan membuat video vlog soal harapannya tentang Indonesia kedepan. Dan terpenting, satu hal, bahwa bukan hanya pemilih milenial, pemilih dengan generasi yang berbedapun pada dasarnya ingin memiliki pemimpin yang dapat mewakili semangat muda, sehingga mereka akan merasa dipimpin oleh orang yang energik, progresif dan penuh semangat.m-com

Pos terkait